Website Resmi Habib Segaf Baharun

Stop Riya’! prioritaskan Ikhlas!

 Bahaya Orang yang Melandasi Tindakan Maupun Ucapan dengan Riya’

    Seseorang yang melaksanakan segala tindakan maupun ucapan tanpa dilandasi dengan ikhlas, maka dia hanya akan mendapatkan merasa penat dan capai serta semua tindakan dan ucapannya tersebut akan menjadi sia-sia dan tiada guna, karena yang bisa memberikan suatu balasan berupa kebaikan, anugerah, kebahagiaan, dan lain-lain hanyalah Allah. Sedangkan manusia tidak mampu untuk melakukan suatu apapun dari hal itu.

Apalagi di dalam melandasi suatu tindakan maupun ucapan dengan riya’ sangatlah berbahaya kepada pelakunya, baik terkait dengan tidak diterimanya amalnya maupun bahaya akan berlaku kepadanya kelak nanti di akhirat. Sebagaimana hadits-hadits dan perkataan Salafunassholih berikut ini:

النَاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّاالْعَالِمُوْنَ ، وَ الْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَامِلُوْنَ ، وَ العَامِلُونَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلاَّ الْمُخْلِصُونَ،وَالْمُخْلِصُونَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ )متفق عليه

“Semua manusia akan binasa, kecuali yang mengetahui dengan ilmu agama. Dan orang yang mengetahui ilmu agama akan binasa, kecuali bagi orang yang mengamalkannya. Dan semua orang yang mengamalkan ilmu agama akan binasa, kecuali bagi yang melandasinya dengan dasar ikhlas. Dan semua yang melandasi amal-amalnya dengan ikhlas pun masih dalam keadaan berbahaya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

لَمَّا خَلَقَ اللهُ عَزَّ و جَلَّ جَنَّةَ عَدْنٍ خَلَقَ فِيهَا مَا لَا عَينٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَر على قَلبِ بَشَرٍ ثُمَّ قَالَ لَهَا: تَكَلَّمِى. فَقَالَت: قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُونَ ثَلاَثًا, ثُمَّ قَالَتْ : أَنَا حَرَامٌ عَلَى كُلِّ بَخِيْلٍ وَ مُرَائٍ)رواه الطبراني

“Tatkala Allah menciptakan surga ‘Adn, maka Allah menciptakan di dalamnya segala macam kenikmatan yang tidak pernah dipandang oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, serta tidak pernah terlintas sekali pun di dalam hati seorang manusia. Maka Allah lberkata kepadanya, “Berbicaralah!” Maka surga ‘Adn itu berbicara, “Telah beruntung bagi orang mu’min,” tiga kali, lalu dia meneruskannya, “Dan aku haram dimasuki oleh mereka yang bakhil dan mereka yang melakukan suatu tindakan maupun ucapan dengan dasar riya’.” (HR. At-Thabrani)

  • Berkata Wahab Bin Munabbihv, “Barang siapa yang mencari dunia dengan pekerjaan akhirat, maka Allah akan membalikkan hatinya, dan Allah akan menulis namanya di deretan para penghuni neraka.”
  • Berkata Imam Sufyan Ats-Tsauriv, “Telah berkata kepadaku ibuku, “Wahai anakku, janganlah engkau belajar ilmu kecuali jika kamu berniat untuk mengamalkannya karena Allah. Dan jika tidak, maka ilmu yang kamu pelajari itu merupakan suatu beban kepadamu kelak pada hari kiamat.”
  • Berkata seseorang kepada Dzinnun Al-Mishri v, “Kapankah seorang hamba mengetahui bahwa dirinya termasuk daripada seorang yang mukhlis?” Maka dijawab olehnya, “Jika dia berusaha dan berupaya sebisa mungkin untuk melaksanakan sebuah ketaatan, tapi dia itu merasa senang jika seumpama kedudukannya jatuh di mata manusia.”
  • Berkata Muhammad Bin Munkadir v, “Aku sangat ingin kepada suadara-sudaraku untuk menampakkan keadaan yang bagus darinya pada malam hari. Karena jika seseorang menampakkan kelakuan yang baik pada siang hari, maka semua orang akan melihatnya. Adapun jika seseorang menampakkan kelakuan baiknya pada malam hari, maka tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah l.”
  • Berkata seseorang kepada Yahya Bin Mu’adz v, “Kapankah seorang hamba itu dianggap sebagai orang yang mukhlis?” Maka dijawab olehnya, “Jika seseorang itu kelakuannya sama seperti kelakuan anak yang sedang menyusu. Dia tidak peduli siapapun yang memujinya ataupun mencelanya. Tetap saja anak itu menyusu dan tidak peduli kepada ucapan mereka.”
  • Diriwayatkan bahwasanya Abu Abdillah Al-Anthoqi v, dia berkata, “Jika nanti pada hari kiamat, Allah lakan berkata kepada orang yang melakukan riya’, “Ambillah pahala amalmu dari orang yang kamu riya’ kepadanya!” Dan berkata pula dia bahwasanya, “Orang yang mencari dengan keikhlasan di dalam amalnya yang zhohir, sementara dia selalu memperhatikan manusia dengan hatinya, maka berarti dia telah berangan-angan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Karena keikhlasan itu bagaikan air dari hati manusia yang akan hidup dengannya, sedangkan riya’ justru mematikan hati tersebut.”
  • Berkata Fudhail Bin Iyadh v, “Selama seseorang merasa senang dengan manusia, maka akan sulit sekali dia selamat dari riya’.”
  • Berkata Abu Abdillah Al-Anthoqi bahwasanya, “Orang yang berhias dan menampakkan bagus amalnya kepada manusia biasanya tidak terlepas dari tiga orang. Pertama, dia itu yang memperbagus dirinya dengan ilmu. Yang kedua, memperbagus dirinya dengan tindakan amal. Dan yang ketiga, memperbagus dirinya dengan meninggalkan perhiasan dan kemewahan, dan yang ketiga ini adalah yang paling rendah dan paling dicintai oleh setan.”
  • Berkata Ibrahim Bin Adham v, “Jangan kamu bertanya dengan saudara kamu tentang keadaannya ketika dia berpuasa. Karena sesungguhnya jika dia menjawab, “Aku sedang berpuasa,” maka nafsunya akan senang karenanya. Tapi kalau dia menjawab, “Tidak, aku sedang tidak berpuasa,” maka nafsunya akan menjadi sedih karenanya. Dan keduanya itu menandakan bahwasanya dirinya melakukannya dengan riya’. Yang demikian itu akan menyebabkannya tertekan dan terbelenggu dengan suatu keadaan yang menyulitkannya, sehingga tidaklah perlu kita bertanya terkait dengan ibadah seseorang.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CIRIKE-4

SELALU IKHLAS DALAM ILMU DAN BERAMAL  SERTA MENGHINDARI RIYA’

 

Ikhlas adalah melaksanakan suatu tindakan atau ucapan hanya karena Allah, karena mengharap ridho-Nya, atau melaksanakan perintah-Nya, atau berusaha untuk meraih cinta dan perhatian-Nya. Sedangkan riya’ adalah melakukan suatu tindakan atau ucapan bukan karena Allah. Di antara ciri-ciri orang-orang sholeh adalah mereka tidak melakukan suatu tindakan maupun ucapan, kecuali didasari dengan ikhlas, dilakukan hanya karena Allah, dan tidak ada tujuan sedikitpun untuk mendapatkan harta benda dunia, perhatian, maupun sebutan dan banggaan dari para manusia.

  • Bahaya Orang yang Melandasi Tindakan Maupun Ucapan dengan Riya’

Seseorang yang melaksanakan segala tindakan maupun ucapan tanpa dilandasi dengan ikhlas, maka dia hanya akan mendapatkan merasa penat dan capai serta semua tindakan dan ucapannya tersebut akan menjadi sia-sia dan tiada guna, karena yang bisa memberikan suatu balasan berupa kebaikan, anugerah, kebahagiaan, dan lain-lain hanyalah Allah. Sedangkan manusia tidak mampu untuk melakukan suatu apapun dari hal itu.

Apalagi di dalam melandasi suatu tindakan maupun ucapan dengan riya’ sangatlah berbahaya kepada pelakunya, baik terkait dengan tidak diterimanya amalnya maupun bahaya akan berlaku kepadanya kelak nanti di akhirat. Sebagaimana hadits-hadits dan perkataan Salafunassholih berikut ini:

النَاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّاالْعَالِمُوْنَ ، وَ الْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَامِلُوْنَ ، وَ العَامِلُونَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلاَّ الْمُخْلِصُونَ،وَالْمُخْلِصُونَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ )متفق عليه(

“Semua manusia akan binasa, kecuali yang mengetahui dengan ilmu agama. Dan orang yang mengetahui ilmu agama akan binasa, kecuali bagi orang yang mengamalkannya. Dan semua orang yang mengamalkan ilmu agama akan binasa, kecuali bagi yang melandasinya dengan dasar ikhlas. Dan semua yang melandasi amal-amalnya dengan ikhlas pun masih dalam keadaan berbahaya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

لَمَّا خَلَقَ اللهُ عَزَّ و جَلَّ جَنَّةَ عَدْنٍ خَلَقَ فِيهَا مَا لَا عَينٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَر على قَلبِ بَشَرٍ ثُمَّ قَالَ لَهَا: تَكَلَّمِى. فَقَالَت: قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُونَ ثَلاَثًا, ثُمَّ قَالَتْ : أَنَا حَرَامٌ عَلَى كُلِّ بَخِيْلٍ وَ مُرَائٍ)رواه الطبراني(

“Tatkala Allah menciptakan surga ‘Adn, maka Allah menciptakan di dalamnya segala macam kenikmatan yang tidak pernah dipandang oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, serta tidak pernah terlintas sekali pun di dalam hati seorang manusia. Maka Allah lberkata kepadanya, “Berbicaralah!” Maka surga ‘Adn itu berbicara, “Telah beruntung bagi orang mu’min,” tiga kali, lalu dia meneruskannya, “Dan aku haram dimasuki oleh mereka yang bakhil dan mereka yang melakukan suatu tindakan maupun ucapan dengan dasar riya’.” (HR. At-Thabrani)

  • Berkata Wahab Bin Munabbihv, “Barang siapa yang mencari dunia dengan pekerjaan akhirat, maka Allah akan membalikkan hatinya, dan Allah akan menulis namanya di deretan para penghuni neraka.”
  • Berkata Imam Sufyan Ats-Tsauriv, “Telah berkata kepadaku ibuku, “Wahai anakku, janganlah engkau belajar ilmu kecuali jika kamu berniat untuk mengamalkannya karena Allah. Dan jika tidak, maka ilmu yang kamu pelajari itu merupakan suatu beban kepadamu kelak pada hari kiamat.”
  • Berkata seseorang kepada Dzinnun Al-Mishri v, “Kapankah seorang hamba mengetahui bahwa dirinya termasuk daripada seorang yang mukhlis?” Maka dijawab olehnya, “Jika dia berusaha dan berupaya sebisa mungkin untuk melaksanakan sebuah ketaatan, tapi dia itu merasa senang jika seumpama kedudukannya jatuh di mata manusia.”
  • Berkata Muhammad Bin Munkadir v, “Aku sangat ingin kepada suadara-sudaraku untuk menampakkan keadaan yang bagus darinya pada malam hari. Karena jika seseorang menampakkan kelakuan yang baik pada siang hari, maka semua orang akan melihatnya. Adapun jika seseorang menampakkan kelakuan baiknya pada malam hari, maka tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah l.”
  • Berkata seseorang kepada Yahya Bin Mu’adz v, “Kapankah seorang hamba itu dianggap sebagai orang yang mukhlis?” Maka dijawab olehnya, “Jika seseorang itu kelakuannya sama seperti kelakuan anak yang sedang menyusu. Dia tidak peduli siapapun yang memujinya ataupun mencelanya. Tetap saja anak itu menyusu dan tidak peduli kepada ucapan mereka.”
  • Diriwayatkan bahwasanya Abu Abdillah Al-Anthoqi v, dia berkata, “Jika nanti pada hari kiamat, Allah lakan berkata kepada orang yang melakukan riya’, “Ambillah pahala amalmu dari orang yang kamu riya’ kepadanya!” Dan berkata pula dia bahwasanya, “Orang yang mencari dengan keikhlasan di dalam amalnya yang zhohir, sementara dia selalu memperhatikan manusia dengan hatinya, maka berarti dia telah berangan-angan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Karena keikhlasan itu bagaikan air dari hati manusia yang akan hidup dengannya, sedangkan riya’ justru mematikan hati tersebut.”
  • Berkata Fudhail Bin Iyadh v, “Selama seseorang merasa senang dengan manusia, maka akan sulit sekali dia selamat dari riya’.”
  • Berkata Abu Abdillah Al-Anthoqi bahwasanya, “Orang yang berhias dan menampakkan bagus amalnya kepada manusia biasanya tidak terlepas dari tiga orang. Pertama, dia itu yang memperbagus dirinya dengan ilmu. Yang kedua, memperbagus dirinya dengan tindakan amal. Dan yang ketiga, memperbagus dirinya dengan meninggalkan perhiasan dan kemewahan, dan yang ketiga ini adalah yang paling rendah dan paling dicintai oleh setan.”
  • Berkata Ibrahim Bin Adham v, “Jangan kamu bertanya dengan saudara kamu tentang keadaannya ketika dia berpuasa. Karena sesungguhnya jika dia menjawab, “Aku sedang berpuasa,” maka nafsunya akan senang karenanya. Tapi kalau dia menjawab, “Tidak, aku sedang tidak berpuasa,” maka nafsunya akan menjadi sedih karenanya. Dan keduanya itu menandakan bahwasanya dirinya melakukannya dengan riya’. Yang demikian itu akan menyebabkannya tertekan dan terbelenggu dengan suatu keadaan yang menyulitkannya, sehingga tidaklah perlu kita bertanya terkait dengan ibadah seseorang.”

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives