Website Resmi Habib Segaf Baharun

Berpuasa di Negara Lain

makanan-buka-puasa_20170619_122405Apabila seseorang berada pada negara yang sudah masuk bulan Ramadlan, maka dia wajib berpuasa. Kemudian dia bepergian ke negara lain yang jatuh bulan Ramadlan (puasa) sehari setelah dinegerinya. Hukumnya: “Dia wajib mengikuti hukum puasa mereka. Walaupun dia harus berpuasa selama 31 hari. Begitu pula sebaliknya, apabila dia berada di negeri yang terlambat memulai puasa, kemudian dia pergi ke negeri yang lebih dahulu puasanya, maka dia wajib berhari raya bersama mereka dan wajib mengqodlo’ satu hari sebagai gantinya. Begitu pula apabila dia berangkat dan negaranya dalam keadaan berpuasa, kemudian sesampainya ke negara yang dituju, di negara tersebut masih siang, padahal kalau dihitung waktunya, seharusnya dia sudah berbuka. Dalam hal ini, dia wajib mengikuti waktu berbuka di negeri itu. Walaupun dia harus berpuasa lebih panjang dari biasanya”.

3. Bagi Orang yang Menyaksikan Tampaknya Bulan pada Malam 30 Sya’ban.
Bagi orang yang menyaksikan tampaknya bulan pada malam 30 Sya’ban, maka wajib atas dirinya untuk menunaikan ibadah puasa, walaupun kesaksiannya tidak diterima karena dianggap orang yang fasik dan lain-lain. Dan wajib berpuasa atas orang yang mempercayainya.
4. Apabila Dikabari oleh Orang yang Mempunyai Sifat ‘Adil Riwayat.
Apabila kita mendapat informasi dari orang yang mempunyai sifat ‘adil riwayat, yaitu orang yang mempunyai sifat ‘adil syahadah selain syarat laki-laki dan syarat orang itu merdeka, misalnya jika seorang wanita berkata bahwa dia melihat bulan pada malam 30 Sya’ban, atau berkata bahwa pemerintah atau DEPAG telah menetapkan bahwa besok adalah awal bulan Ramadlan, maka hukumnya:
“Apabila dia tidak pernah terdengar berbohong, maka wajib atas orang yang diberitahu untuk menunaikan ibadah puasa hari itu, dengan syarat dia yakin bahwa dia tidak berbohong”.
Dan apabila dia dikenal pernah berbohong walaupun hanya satu kali, maka hukumnya: “Apabila kita mempercayai bahwa dia berkata jujur dalam kabar itu, maka wajib bagi kita untuk berpuasa pada hari itu, walaupun yang membawa berita itu seorang yang fasiq atau anak kecil yang belum baligh”.
5. Dengan Ijtihad
Bagi orang yang tidak dapat memastikan masuknya bulan Ramadlan karena dia berada di penjara, atau dalam hutan, atau menjadi tawanan dan lain sebagainya, sedangkan dia tahu Ramadlan terjadi pada musim hujan atau musim dingin, maka dia harus berijtihad dengan mencari tanda-tanda yang menunjukkan akan masuknya bulan Ramadlan, misalnya dengan mendengar suara sirine, dentuman meriam atau melihat lampu-lampu yang digantung di masjid, atau gema dzikir-dzikir yang secara khusus dikumandangkan pada waktu menyambut bulan Ramadlan atau tanda-tanda lainnya. Dan jika dia yakin hari itu adalah bulan Ramadlan, maka dia wajib berpuasa, seandainya dia berpuasa dengan ijtihad itu bertepatan dengan yang sebenarnya maka sahlah puasanya, sedangkan kalau dia memulai puasa sebelum masuk bulan Ramadlan, maka puasanya menjadi puasa sunnah. Dan wajib atasnya menunaikan puasa Ramadlan jika tiba saatnya. Atau jika dia berpuasa setelah puasa Ramadlon maka puasanya menjadi qodlo’ bagi Ramadlan yang telah berlalu.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives