Website Resmi Habib Segaf Baharun

Etika seorang murid pada guru

   Sopan santun dan adab yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid terbagi menjadi dua. Yang pertama, adab batin yaitu yang dilaksanakan oleh hati dan sanubari, serta keyakinan. Yang kedua, adab zhohir, yaitu yang dilaksanakan oleh anggota badan yang zhohir. Adapun adab batinnya adalah sebagai berikut:

  • Tunduk dan pasrah sepenuhnya kepada guru, mentaati semua perintahnya dan menjalankannya, selama hal itu tidak bertentangan dengan agama dan akalnya. Seperti dikatakan oleh Habib Abdullah Al-Haddad Shohibur Rotib:

                                                                    لاَ يَكُونُ الْمُرِيْدُ مُرِيْدًا حَتىَّ يَكُونَ بَينَ يَدَيْ شَيْخِه كَالْمَيِّت بَيْنَ يَدَيْ غَاسِلِه

“Seorang murid itu tidak akan berhasil mendapatkan kemanfaatan dalam ilmunya, kecuali jika ia berada di depan gurunya bagaikan seorang mayyit yang dimandikan oleh pemandinya.”

  • Menganggap gurunya sempurna di dalam pandangan matanya, dan tidak menjadikannya sasaran untuk dikritik, apalagi sampai dihinakan dan direndahkan. Dan juga tidak berprasangka dengan prasangka tidak baik kepadanya.

Berkata Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami , “Barang siapa yang menentang atas perilaku dan perkataan gurunya, serta mencari-cari kesalahannya, maka hal itu merupakan pertanda bahwa dia akan mendapatkan ilmu yang tidak bermanfaat dan akhir hidup yang tidak baik (su’ul khotimah), serta ia akan menjadi orang yang tidak sukses dalam hal apapun.”

Berkata para ulama’, “Barang siapa yang mengatakan pada gurunya ‘kenapa?’, maka ia tidak akan beruntung selamanya.”

  • Tidak meyakini bahwa gurunya adalah seorang yang ma’shum. Dengan kata lain, terjaga dari kemungkinan bersalah dan dosa. Karena seorang guru yang sudah mencapai tingkatan wali sekalipun, mereka itu hanyalah dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa, dan bukan terbebaskan dari segala macam dosa seperti para Nabi yang dijaga dari segala macam maksiat dan tidak mungkin mereka bermaksiat, akan tetapi hakikatnya mereka adalah manusia biasa yang tidak luput dari segala kesalahan dan dosa. Karena jika seorang murid berkeyakinan bahwa gurunya itu sempurna dan tidak mungkin berdosa, lalu suatu saat ia menemukannya dalam keadaan berdosa dan bertentangan dengan syariat, maka akan timbul pertentangan pada dirinya bahkan mungkin dirinya akan memutuskan hubungan dengannya.
  • Hendaknya meyakini bahwa gurunya itu sempurna di dalam keahliannya dan di dalam mendidik murid-muridnya. Sehingga tatkala kita melihat seorang guru itu sempurna dalam pendidikannya, maka tidak ada ruang bagi kita untuk merendahkannya serta mengecilkannya, dan kita akan mendapatkan keberkahannya. Karena sesungguhnya, semua manusia siapapun dia, walaupun para Nabi, mereka tidak bisa memberikan suatu apapun terkait dengan rahmat maupun barokah. Karena hanya Allah-lah yang bisa memberikan itu semua. Mereka hanyalah perantara Allah dalam memberikan keberkahan, rahmat dan anugerah-Nya. Sebagaimana sabda Nabi y:

                                                     قَالَ رَسُولُ الله صلَّى الله عليه و سلَّم: اَنَا أَبُو الْقَاسِم, فَاللهُ مُعْطِي وَ اَنَا أُقْسِم. (رواه مسلم)

“Aku adalah Abu Al-Qosim. Sedangkan Allah adalah Zat yang  Maha Memberi dan aku hanya membagi-bagikan saja.” (HR. Muslim)

  • Bersungguh-sungguh di dalam mencari kebaikan dari seorang guru dan mengikhlaskan niat dengan seikhlas-ikhlasnya ketika berbakti dan berbuat baik kepadanya.
  • Mengagungkan dan menjaga kemuliaannya, baik di depan gurunya maupun di belakangnya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibrahim Bin Syiban Al-Kurubmaisyini v, “Barang siapa tidak memuliakan guru-gurunya, maka ditakutkan kepadanya bahwa ia akan diuji dan diberi cobaan oleh Allah l berupa tuduhan-tuduhan yang tidak benar yang akan menyebabkannya malu karenanya.”

Berkata Imam At-Tirmidziv, “Jika Allah menempatkanmu dalam suatu kedudukan, akan tetapi engkau tidak memuliakan orang-orangnya dan tidak mendapatkan kelezatan bersama mereka yang telah menempatkanmu dalam kedudukan itu, maka ketahuilah bahwasanya hal itu merupakan sebuah tipuan dan istidroj.”

Berkata Abul ‘Abbas Al-Mursyi v, “Kami telah meneliti beberapa orang yang mana mereka itu menentang gurunya dan tidak baik di dalam memuliakan mereka, maka mereka itu meninggal dalam keadaan yang tidak baik (su’ul khotimah).”

  • Mencintai gurunya sebagaimana ia mencintai orangtuanya.

Adapun adab-adab yang zhohir adalah sebagai berikut:

  • Hendaknya ia taat kepada gurunya, baik dalam menjalankan perintahnya maupun larangannya, sebagaimana seorang pasien yang mendengarkan pesan-pesan dokternya dan benar-benar akan melaksanakan semua perintahnya.
  • Seharusnya bagi seorang murid hadir di depan gurunya dalam keadaan yang tenang, mengagungkan, dan sahaya. Hingga tidak duduk dalam keadaan menyandar, tidak menguap di depannya, tidak tidur dalam majelisnya apalagi tertawa tanpa sebab, tidak meninggikan suaranya, dan tidak berbicara kecuali diizinkan sebelumnya.
  • Cepat dan cekatan di dalam melayaninya dan berbakti kepadanya. Karena dikatakan di dalam kaedah sufiyyah bahwasanya barang siapa yang melayani sang guru, maka ia akan menjadi seorang pemimpin dan dilayani oleh murid-muridnya.
  • Hendaknya selalu berziarah dan mengunjungi gurunya, walaupun sudah tidak lagi belajar kepadanya, sebagaimana kita diperintahkan untuk bersilaturrahmi dengan para kerabat.
  • Sabar terhadap sanksi-sanksi yang dibuat oleh gurunya dan menerapkan semua sanksinya dengan tujuan dan harapan mendapatkan ridho Allah l. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami v, “Banyak orang yang ketika ia mendapati gurunya itu memberikan sangsi yang tidak ia sukai, maka dia menentangnya, walaupun di dalam hatinya. Bahkan menuduhnya dengan tuduhan yang tidak baik serta membencinya.” Yang demikian itu terjadi karena memang hawa nafsu diciptakan untuk melawan kebenaran dan ketaatan, apalagi ditambah oleh godaan setan yang selalu menghalangi untuk menjadi seorang yang alim dengan mentaati gurunya.
  • Tidak membawa perkataan dan fatwa gurunya, kecuali setelah ia benar-benar faham agar tidak menjadi fitnah bagi orang yang mendengarnya.
  • Menghormati keluarganya serta anak keturunannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Syafi’i v, “ Anak guru adalah guru juga.”

Itulah di antara sopan santun seorang murid kepada gurunya. Semoga kita semua termasuk yang benar-benar menghormati dan memuliakan guru, sehingga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Karena memang guru kita apalagi jika terdiri dari para ulama’ yaitu yang mengajarkan ilmu agama, mereka berkedudukan seperti kedudukan Nabi y dan mereka adalah sasaran sebutan Nabi Muhammad y, dengan dasar hadits Nabi y:

مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا زَارَنِي, وَ مَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّما صَافَحَني, و مَن جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا جَالَسَني, وَ مَنْ جَالَسَنِي فِي الدُّنْيَا كُنْتُ لَه جَالِسًا يومَ القيامة. (رواه الدار قطني)

“Barang siapa yang mengunjungi seorang alim, maka seakan-akan ia mengunjungiku. Barang siapa yang bersalaman dengan orang yang alim, maka seakan-akan bersalaman denganku. Dan barang siapa yang duduk bersama orang alim, maka seakan-akan ia duduk bersamaku. Sedangkan yang biasa duduk bersamaku di dunia, kelak nanti di akhirat akan menjadi teman dudukku.” (HR. Daru Quthni)

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives