Website Resmi Habib Segaf Baharun

Jangan menutup mata dari kebaikan orang lain

 Diantara pintu-pintu masuknya setan ke dalam diri manusia adalah selalu melihat kejelekan orang dan menutup maatanya dari kebaikan-kebaikan mereka.Sehingga selalu tampak dirinya lebih baik daripada mereka dan selalu tampak pada dirinya keburukan mereka ketimbang kebaikan-kebaikannya.

Sedangkan orang sholeh tidak demikian, dia selalu melihat orang lain itu selalu baik.Dan setiap kali tampak pada diri mereka terkait dengan keburukan dan dosa, maka mereka selalu mentakwilkan (memberikan alasan) dengan takwilan yang membebaskannya daripada dosa tersebut atau dengan meyakini dia sudah keluar daripada dosa itu dengan taubat.

Sebagaimana perkataan Habib Abdullah Al-Haddad Shohibur Rotib, ”Seandainya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri seseorang berzina, kemudian dia hilang daripada pandanganku walaupun sekejap, dan setelah itu aku menemuinya kembali, aku berkeyakinan bahwasanya dia adalah salah satu daripada kekasih Allah. Karena bisa jadi ketika dia itu tidak lagi berada dalam pandanganku, dia bertaubat pada Allah ldan Allah menerima taubatnya sehingga Allah mencintainya.” Sebagaimana firman Allah l:

                                                                                                                                  إنَّ  الله يُحِبُّ التَّوّاَبِيْنَ البقرة

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Dan sebaliknya, seseorang yang tidak sholeh itu bagaikan seekor lalat, dimana lalat itu selalu hinggap di tempat-tempat yang kotor juga di tempat-tempat yang bersih untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.Bahkan apapun yang tampak dari mereka berupa kebaikan, maka ditakwilkan dengan keburukan. Misalnya mereka mengatakan terkait dengan kebaikan orang lain, “Dia melakukannya dengan riya’, karena sum’ah (supaya dipuji orang), dan lain sebagainya.”

Maka seharusnya orang seperti ini merenungkan bahwasanya kita tidak pernah sama sekali dituntut oleh Allah luntuk mengurusi orang lain, dalam arti apakah dia itu seorang yang jahat, pendosa ataukah seorang yang baik, ahli taat dan ahli ibadah? Akan tetapi yang diperintahkan Allah ldalam agama ini adalah selalu berhusnuzhon kepada setiap orang.Dan jika timbul sesuatu yang tidak baik terkait dengan orang lain, maka selalu ditakwilkan dengan sebab-sebab yang mengeluarkannya daripada himpitan dosa, sehingga kita melihat semua orang lain lebih baik daripada diri kita. Dan orang-orang sholeh itu tidak pernah melihat ada batasan sosialketika bergaul dengan manusia.Dia bisa berkumpul dengan siapapun, baik yang kecil maupun yang besar, orang awam maupun orang alim, dan tidak pernah menganggap orang lain itu patut untuk dijauhi dan dihindari.

Jika orang sholeh yang semacam ini dikategorikan sebagai orang yang tidak berguna bagi orang lain karena seharusnya seorang yang sholeh itu mengingkari kemungkaran dan menyerukan dengan kebaikan. Dengan  begitu, bisa jadi karena sebab dia, orang lain yang seharusnya dinasehati dan diserukan kebaikan kepadanya,akan tetap dalam keadaanberdosa serta jauh daripada ibadah?Seperti ini, maka dijawab dengan dua jawaban.

Yang pertama adalah seseorang tidak pernah dituntut untuk memvonis seseorang bersalah atau tidak, berdosa atau tidak, sementara kita dituntut untuk menjaga diri supaya tidak berdosa sehingga pantas Allah lberfirman dalam Al-Qur’an:

                                                                                                                                      قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Bukankah dengan kita menyangka dia pendosa, berarti kita telah su’uzhon kepadanya? Maka bagaimana mungkin seorang itu akan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan melakukan suatu dosa sebelumnya.

Yang kedua, bukankah setiap orang pada dirinya akan didapatkan dua pertimbangan? Pertimbangan yang pertama, datang dari orang lain yang berupa nasehat dan mau’izhoh, ancaman maupun peringatan. Sedangkan pertimbangan yang kedua itu muncul dengan sendirinya melalui lintasan yang ada di dalam pikirannya, karena pasti dia akan berbicara,“Sebagaimana aku telah melakukan maksiat ini, maka orang lain juga seperti itu. Begitu pula saudara-saudaraku, apapun yang terjadi pada diriku juga bisa terjadi kepada orang lain.” Sehingga dengan perasaan seperti itu tidak terhalangi baginya untuk menjadi lebih baik dan sadar dengan sendirinya sertaberusaha untuk meninggalkan kemaksiatannya. Maka hanya dengan menyaksikan saja, mungkin seseorang akan berubah 180 derajat. Oleh karenanya ada sebuah makalah yang berbunyi:

                                                                                                                      الدَعْوَة بِالْحَالِ خَيْرٌ مِنَ الدَّعْوَة بِا لْقَوْل

”Dakwah dengan menampilkan keadaan kita itu lebih baik daripada berdakwah dengan kata-kata.”

            Semoga kita dijadikan oleh Allah lmenjadi seseorang yang selalu berprasangka baik, dan dhindarkan dari menjadi seorang yang selalu berprasangka buruk pada orang lain. Aamiin Ya Arhaamar Rohimiin…

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives