Website Resmi Habib Segaf Baharun

Solusi agar tidak suka membicarakan orang lain

161220141128-berbisik-dengan-sahabatKetahuilah bahwasanya semua macam akhlak-akhlak yang tercela bisa diobati secara keseluruhan dengan teori dan praktek. Kesimpulannya, bahwasanya solusi atau obat mujarrab untuk mengatasi lidah dari berghibah adalah kembali kepada dua hal. Yang pertama secara global dan yang kedua secara terperinci. Yang secara global adalah dengan cara mengingat beberapa hal dibawah ini:
a) Dia harus tahu bahwasanya dengan berghibah dia telah menyodorkan diri ke dalam murka Allah SWT dan adzab-Nya yang sangat pedih di akhirat sebagaimana tersirat didalam hadits-hadits tersebut di atas.
b) Dia harus tahu bahwasanya berghibah itu akan menghapuskan pahala dari amal ibadah yang telah dilaksanakan selama di dunia. Sehingga pahala yang telah dia kumpulkan selama di dunia akan diberikan kepada orang yang menjadi sasaran ghibahnya sesuai dengan seberapa kadar dia melakukan ghibah padanya. Dan jika seumpama dia sudah tidak mempunyai hasanat atau hasanatnya sudah habis, maka dosa daripada orang yang dighibahnya akan ditumpuk diatas dosanya ditambah lagi dia akan menjadi sasaran daripada murka Allah SWT ? Bukankah hal itu merupakan sebuah kerugian yang sangat besar? Sehingga seharusnya hal itu dijadikan sebuah pertimbangan dan neraca sebelum dia mengghibahi orang lain. Sebagaimana sabda Rosulullah :
قال صلّى الله عليه وسلم : مَا النَّارُ فِي اليَبسِ بِأَسرَع مِن الغِيبَةِ فِي حَسَنَاتِ العَبدِ . (احياء علوم الدين)
Ghibah menggerus kebaikan seorang hamba lebih cepat daripada api yang membakar kayu dan dedaunan yang kering. (Ihya’ Ulumuddin)
c) Hendaknya seseorang yang akan mengghibah merenungkan terlebih dahulu bahwasanya jika ada aib dan kekurangan pada orang yang dighibahinya, tidak mustahil aib dan kekurangan itu ada juga pada dirinya yang mana suatu waktu nanti akan dibuka dan disebarkan oleh orang lain sebagai balasan karena dia telah menyebarkan aib orang lain. Itupun jika aib dan kekurangan yang dighibahinya terkait dengan sifat dan pekerjaan yang dalam ikhtiar manusia. Adapun jika aib atau kekurangan yang ada pada diri orang yang dighibahi itu terkait dengan fisiknya, berarti kita telah menodai dan menghina penciptanya yaitu Allah SWT.
d) Hendaknya seseorang sebelum berghibah, menyibukkan diri dengan mencari aib dan kekurangan dirinya daripada mwnyibukkan diri dengan mencari aib dan kekurangan orang lain. Dan jika dia telah menyibukkan dirinya untuk mencari aib dan kekurangan dirinya dan dia tidak menemukannya, hendaknya dia bersyukur kepada Allah SWT . Dan selanjutnya dia harus menjaga dirinya untuk tidak mengotori lidahnya dengan menyebutkan aib orang lain karena mengghibah orang lain seakan-akan memakan daging bangkainya. Itu adalah termasuk aib yang paling besar.
e) Hendaknya dia merasakan bagaimana kiranya kalau seumpama dia merasa orang lain mengghibahi kita. Bukankah sakit hati kita mendengarnya? Maka sesuai dengan sabda Nabi :
قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم : الجَزَاءُ مِن جِنسِ العَمَلِ
Balasan suatu perbuatan setimpal dengan perbuatannya itu.
f) Hendaknya dia ukur orang lain dengan dirinya. Jika dia tidak suka dighibahi orang lain, maka hendaknya dia tidak mengghibahi orang lain. Itu diantara solusi secara global.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives