Website Resmi Habib Segaf Baharun

Jangan munafik!

Munafik adalah orang yang memiliki sifat nifak. Nifak artinya menampakkan yang baik dan menyembunyikan yang buruk. Nifak sangat dibenci oleh Allah sehingga orang yang munafik diancam oleh-Nya dengan siksa yang amat pedih, di neraka yang paling dasar.

Di antara sifat-sifat dan ciri-ciri orang sholeh adalah totalitas di dalam meninggalkan segala macam kemunafikan, yaitu menampakkan sesuatu yag lain sedangkan apa yang ada di dalam hati berbeda. Itulahyang dimaksud dengan kemunafikan. Sedangkan orang sholeh menghindari sifat tersebut, sekiranya antara batin dengan perilaku zhohirnya sama saja, semuanya dalam kebaikan. Perilaku mereka baik, hati mereka juga baik. Karena mereka sangat memahami dan meyakini bahwasanya segala amal perbuatan yang dilakukan manusia di dunia, kelak akan tampak seperti hakikatnya. Jika pada hakikatnya bukan karena Allah, maka akan tampak bukan karena Allah.

Sebagaimana diwasiatkan oleh Nabi Khidir pketika berjumpa dengan Sayyidina Umar Bin Abdul Aziz, di mana Sayyidina Umar meminta kepadanya agar menasehati dan berwasiat untuknya. Maka Nabi Khidir berkata, “Awaslah kamu, wahai Umar! Jika kamu terlihat di hadapan manusia sebagai seorang Wali Allah, tapi ketika bukan di hadapan mereka, engkau tampak sebagai musuh-Nya. Karena sesungguhnya sesuatu yang tidak sama antara bathin dan zhohirnya, perilaku dan niatnya, maka ia adalah seorang munafik, sedangkan orang munafik berada di neraka yang paling rendah dan paling bawah.” Lalu menangislah Sayyidina Umar Bin Abdul Aziz setelah mendengar wasiat Nabi Khidir tersebut.

Di dalam hadits, Nabi ybersabda :

يَخْرُجُ فِي أَخِرِ الزَّمَان أَقْوَامٌ, يَخْتَلَّون أنْ يَطْلُبُوْن الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْأَخِرَة, أيْ الدُّنيَا بِالدِّين, يَلْبَسُون جُلُوْدَ الطَّعْن مِنَ اللَّين, أَلْسِنَتُهُم أَحلَى مِنَ الْعَسل, وَقُلُوبُهُم قُلُوبُ الذِّئَابِ يَقُولُ الله تعالى : أَ بي يَغْتَرُّونَ أم عَلَيَّ يَجْتَرِئُونَ ؟ فَبِي حَلَفْتُ لَأَبْعَثَنَّ عَلَى أُولئك فِتْنَةً تَدَعُ الْحَلِيمَ مِنْهُمْ حَيْرَانًا (رواه الترمذي)

“Nanti akan keluar pada akhir zaman, suatu golongan. Mereka mencari dunia dengan pekerjaan akhirat, mereka menggunakan pakaian yang terbuat dari kulit domba, lidah mereka lebih manis daripada madu, akan tetapi hati mereka seperti musang. Allah lakan berkata atas mereka, “Mereka menipu-Ku dan mereka berani terhadap-Ku? Maka Aku bersumpah, Aku akan mengirimkan sebuah fitnah kepada mereka, yang akan menjadikan orang yang pintar nan piawai menjadi bingung karena fitnah tersebut.” (HR. At-Tirmidzi)

  1. Perkataan Para Salafunassholih Terkait dengan Sifat Kemunafikan
  • Berkata Mahlaf Bin Abi Shofroh v, “Aku sangat membenci kepada seseorang yang lisannya itu melebihi daripada perilakunya (tidak sama antara ucapan dengan kelakuannya).”
  • Berkata Abdul Wahid Bin Zaid v, “Imam Hasan Al-Bashri tidaklah sampai pada maqom yang tinggi kecuali karena jika dia memerintahkan manusia dengan suatu perintah, maka ia mendapati dirinya adalah yang paling mendahului mereka di dalam perbuatan yang ia perintahkan. Dan jika dia melarang atas suatu larangan, maka ia mendapati dirinya adalah yang paling jauh dari larangan tersebut. Alias dia benar-benar mengamalkan dengan ilmunya. Sehingga banyak di antara mereka yang berkata bahwasanya Imam Hasan Al-Bashri hatinya sama seperti perilakunya dan bathinnya sama seperti zhohirnya.”
  • Berkata Mu’awiyah Bin Qurroh , “Tangisan hati lebih baik daripada tangisan mata.”
  • Berkata Ihya’ Bin Mu’adz  “Hati seorang manusia itu bagaikan kendi atau panci di mana tongnya adalah mulut-mulutnya. Maka hendaklah kalian menjadi hamba sahaya terhadap tindakan kalian sebagaimana kalian menjadi hamba sahaya terhadap lisan kalian,” di mana maksudnya adalah antara hati dan perilaku haruslah sama.
  • Berkata Marwan Bin Muhammad  “Tidak ada seorang pun yang mensifati orang lain, kecuali aku dapatkan orang itu tidak sesuai dengan yang mereka sifatkan kepadanya, kecuali satu orang yaitu Imam Waqi’. Jika aku dapatkan orang lain mensifatinya, maka aku akan dapatkan bahwa dirinya lebih tinggi dari apa yang disebutkan oleh mereka.”
  • Berkata ‘Atabah Bin Amir “Jika hati seseorang sesuai dengan perilakunya, bathinnya sesuai dengan zhohirnya, maka Allah lakan berkata kepada para malaikat, “Inilah hamba-Ku yang sesungguhnya.”
  • Berkata Abu Abdillah Al-Anthoqi  “Sebaik-baik amal adalah meninggalkan maksiat yang tesembunyi.” Lalu dikatakan kepadanya, “Mengapa bisa demikian?” Maka ia menjawab, “Karena maksiat yang tersembunyi itu jika ditinggalkan, ia akan lebih meninggalkan maksiat yang zhohir. Barang siapa yang hatinya lebih baik dari perilakunya dalam keadaan sendiri dan tidak diketahui oleh orang lain, merupakan karunia besar yang Allah berikan kepadanya. Dan barang siapa yang perilakunya tidak lebih baik dari hatinya, maka itulah sebuah kesengsaraan yang Allah kirim kepada orang-orang yang akan dinistakannya.”
  • Berkata Yusuf Bin Asbaq  “Allah ltelah menurunkan wahyu kepada para Nabi sebelum Nabi kita Muhammad y, yang berbunyi, “Katakanlah kepada umatmu! Hendaknya mereka menyembunyikan amal mereka, maka niscaya kelak Aku akan tampakkan amal mereka.”
  • Berkata Malik Bin Dinar  “Barang siapa memerintahkan manusia dengan suatu perkara yang tidak dia lakukan, maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang munafik, kecuali jika ia ditanya tentang hal tersebut.” Dan ia juga berkata, “Hati-hatilah engkau dari keadaan yang mana pada siang hari engkau disebut sebagai seorang yang sholeh, akan tetapi pada malam hari engkau tampak sebagai seorang setan yang tholeh.”
  • Berkata Zubair Bin Awwam  “Jadilah kalian orang yang menyembunyikan amal sholeh sebagaimana kalian menyembunyikan amal buruk.”
  • Berkata Abu Musaim Al-Khulani , “Termasuk dari nikmat Allah yang Ia berikan kepadaku, segala puji bagi-Nya, yaitu aku sejak 30 tahun yang lalu hingga saat ini tidak pernah melakukan sesuatu yang aku malu dengan melakukannya. Kecuali satu perkara saja, yaitu aku tidur bersama istriku.”
  • Berkata Abu Abdillah As-Samargandi ketika banyak orang yang memujinya, “Demi Allah! Perumpamaan diriku dengan kalian seperti perumpamaan seorang gadis yang telah hilang keperawanannya karena zina, sementara keluarganya tidak mengetahui akan hal itu. Lalu keluarganya sangat gembira pada saat malam pengantinnya, sedangkan gadis tersebut merasa takut akan terkuak aibnya oleh suaminya ketika malam pengantin (karena dia sudah tidak perawan).”
  • Berkata Yahya Bin Mu’adz , “Barang siapa yang ingin dipuji oleh manusia hanya dengan perkataan saja dan tidak diiringi dengan perilakunya, maka sama seperti orang yang datang dalam sebuah walimah yang dibuat oleh seorang raja tanpa adanya undangan darinya. Barang siapa yang merasa cukup hanya dengan perkataan saja tanpa diiringi dengan perilaku, maka Allah akan membalasnya dengan berjanji saja, tetapi tidak memberikan balasan (pahala) untuknya sebagai siksa darinya.”
  • Berkata Sufyan Ats-Tsauri  “Sifat riya’ telah banyak terdapat dalam diri para ulama’ di zaman ini, di mana mereka menampakkan kepada manusia seakan-akan mereka adalah ahli ibadah, sedangkan hati mereka sibuk dengan mendengki dan iri, serta benci terhadap sesama.”

Kesimpulannya, bahwasanya orang sholeh itu selalu berusaha untuk menyamakan antara zhohir dengan bathinnya, antara perilaku dengan hatinya. Dan demikian itu tidak serta merta dilakukan dan tidak mudah untuk melakukannya, kecuali melalui tahapan mujahadah.

Semoga kita semua dan kaum muslimin dijauhkan daripada sifat-sifat kemunafikan terutama yang disebutkan oleh Nabi ydalam hadist di bawah ini :

إِذَا حَدَثَ كَذَبَ, وَإِذَا حَلَفَ أَخْلَفَ, وَ إِذَا أْؤتُمِنَ خَانَ. (مُتَّفَق عَليه)

“Seorang yang munafik itu jika berbicara, dia berdusta. Jika dia berjanji, dia tidak menepati. Dan jika diberi amanat, dia mengkhianatinya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives