Website Resmi Habib Segaf Baharun

Belajar dari kehidupan

SELALU MENGAMBIL PELAJARAN DARI KEHIDUPAN DUNIA

Dunia bukanlah untuk dinikmati, bukan untuk dijadikan sebagai tempat yang membahagiakan dan bukanlah tempat abadi. Karena memang dunia bukan tempat pembahagiaan, bukan pula tempat ketenangan dan tidak abadi, sehingga seorang yang sholeh itu menjadikan kehidupan dunia dan dunia itu sendiri sebagai perantara menuju ridho Allah, jembatan menuju akhirat dan pengingat dari sebuah kelalaian.

Sedangkan orang yang tidak baik dan tidak sholeh melihat dunia sebagai sebuah kesempatan, sebuah pelampiasan kesenangan dan memandang dunia sebagai tempat yang abadi, sehingga dia berburu harta benda duniawi dan mengumpulkannya sebanyak-banyaknya, seakan-akan dia akan hidup untuk selamanya. Mereka juga melihat dunia sebagai sebuah kompetisi untuk menjadi yang paling kaya, paling bahagia, paling berkuasa, dan paling merasa mulia. Orientasi hidup mereka hanya terkait dengan dunia,yaitu untuk menggapai kelezatan hawa nafsu, kelezatan perut dan kemaluannya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ydi dalam hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad Bin Abi Waqash a, dimana beliau datang pada Nabi ypada suatu hari :

عَنْ سَعْد بْنِ أَبي وَقَّاص رضِي الله عنه: جَاءَ سَعْدُ بْنِ أبي وَقَّاص يَوْمًا إلَى رَسُولِ الله فَقَالَ لَه: أَيْنَ كُنْتَ يَا سَعد؟ فَقَال: كُنتُ عِنْدَ قَوْمٍ فِي الْبَدِيَّة , هَمَّتْهُم لَذَّاتُ بُطُوْنِهِم وَ فُرُوْجِهِم , فَقَال لَه رَسُولُ الله صَلَّى الله عليه و سلّم: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَا هُوَ أَعْجَبُ مِنْ ذَالِك؟ فَقَال بَلَى, قَالَ: مَنْ عَرَفَ مِثْلَ هَذَا الَّذي أَنْكَرْتَ عَلَيْهِم ثُمَّ فَعَلَ كَفِعْلِهِم.

“Telah datang Sa’ad Bin Abi Waqash asuatu hari pada Rasulullah , maka Rasulullah bertanya kepadanya, “Dimanakah engkau, wahai Sa’ad?” Kemudian dijawab, “Aku berada di antara kaum di pinggiran kota, di mana mereka itu pikirannya selalu di dalam kelezatan perut mereka dan kemaluan mereka.” Maka Rasulullah ybersabda kepadanya, “Tidakkah aku beritahukan kepada engkau, sesuatu yang lebih mengherankan daripada itu?” Maka dijawab olehnya, “Iya, wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah bersabda, “Yaitu mereka yang mengetahui dengan hal itu yang mana engkau mengingkarinya, akan tetapi dia melakukan seperti apa yang mereka lakukan.” (Tanbihul Mughtarrin)

Berkata Ziffin Asrori  “Barang siapa yang menyibukkan pikiran dengan mengambil pelajaran dan ibrah dari dunia, maka amal sholehnya tidak akan berkurang. Bahkan akan selalu bertambah.”

Berkata seseorang kepada Hatim Al-‘Ashom a, “Kapankah seseorang dari kita menjadi seseorang yang selalu mengambil pelajaran dari dunia?” Maka ia menjawab, “Jika dia memandang segala sesuatu yang ada di dunia, akhirnya pasti akan musnah dan raib, sedangkan pemiliknya akan dikubur di dalam tanah.”

Berkata Yahya Bin Mu’adz v, “Hendaknya pandanganmu atas dunia adalah pandangan pelajaran atau ibrah, dan usahamu dalam mengumpulkan dunia ialah mencari seperlunya dan engkau menolak untuk mencintai dunia secara sukarela.”

Berkata Hatim Al-‘Ashom  “Barang siapa yang melihat jenazah keluar dari rumah, lalu dia tidak mengambil pelajaran darinya, maka sesungguhnya tidak bermanfaat baginya suatu ilmu pun, maupun hikmah dan nasehat.”

Berkata Ahmad Bin Harb , “Bumi sangat heran kepada dua orang. Yang pertama, pada orang yang mempersiapkan tempat tidurnya untuk tidur. Maka bumi berkata, “Wahai anak Adam!  Mengapa engkau tidak mengingat masa kebinasaanmu setelah engkau di dalam tidurmu yang sangat panjang kelak?” Yang kedua, kepada orang yang berselisih dengan saudaranya. Maka bumi berkata, “Apakah engkau tidak memikirkan orang-orang sebelummu? Berapa banyak orang sepertimu sebelumnya, yang lebih banyak memiliki harta daripada kamu. Akan tetapi apa yang mereka rasakan sekarang?”

Berkata Malik Bin Dinar v, “Barang siapa yang tidak mengambil ibrah dengan mata dan hatinya di dunia ini, maka ia adalah seseorang yang tertutup hatinya dan sedikit amalnya.”

Berkata Tsabit Al-Bannani, “Diriwiyatkan bahwasanya, Nabi Daud pmelewati sebuah api unggun yang menyala, maka ia mengingat pada api yang Allah siapkan pada mereka. Sehingga karenanya ia menjadi gelisah, wajahnya pucat, dan lemas seluruh badannya, bahkan tidak dapat menggerakkannya kecuali dengan diikat pada suatu benda untuk menyangga dan menggerakkannya. Yang demikian itu ia lakukan hingga beberapa hari, sanking besarnya ia mengambil ibrah dari api yang menyala. Maka setelahnya ia selalu berkata, ”Aku tidak sabar pada panasnya matahari-Mu, bagaimana aku akan sabar atas panasnya api neraka-Mu?”

Diriwiyatkan bahwasanya Sayyidina Isa pmelewati sebuah kuburan. Tiba-tiba ia mendengar suara berkata, “Berapa banyak orang yang mempunyai badan yang sehat, wajah yang tampan, dan lidah yang fasih, akan tetapi sekarang mereka berbaur dengan tanah dan ditelan bumi, serta dalam keadaan melolong meminta tolong?”

Kesimpulannya, di antara ciri seorang yang sholeh adalah selalu melihat pada apa yang terjadi di dunia sebagai suatu pelajaran berharga baginya, bahwa dunia bukanlah tempat tinggal abadi. Hanya saja ia merupakan kesempatan yang harus digunakan untuk mencari ridho Ilahi dan mendapatkan kehidupan yang abadi.

Semoga kita semuanya termasuk yang mengambil ibrah dari dunia ini untuk mendapatkan kehidupan yang membahagiakan selama-lamanya kelak. Aamiin Ya Robbal’Alamiin…

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives