Website Resmi Habib Segaf Baharun

Senang menasehati dan dinasehati

Menasehati dan dinasehati, keduanya adalah sifat yang mulia. Dan semua sifat yang mulia, pasti tidak mudah dilakukan kecuali dengan bermujahadah. Karena semua sifat mulia, tidak diinginkan oleh setan untuk dilakukan oleh manusia. Yang demikian itu akan mendekatkan pelakunya kepada ridho Allah . Sedangkan, para setan dan hawa nafsu memang Allah ciptakan supaya manusia tidak mudah dalam melakukan sebuah kebaikan dan ketaatan, termasuk menasehati orang lain dan menerima nasehat dari orang lain.

Di dalam surah Al-‘Ashr, Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ  العصر : 1-3

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr : 1-3)

Maka diantara orang-orang yang selamat dan tidak merugi adalah mereka yang selalu menasehati. Akan tetapi, dinasehati merupakan keadaan yang lebih berat daripada menasehati. Mungkin semua orang bisa menasehati orang lain, akan tetapi sulit baginya untuk menerima nasehat dari orang lain. Maka, diantara sifat-sifat orang yang sholeh, dia senang menasehati orang lain sekaligusjuga senang untuk dinasehati oleh orang lain.Baik orang lain itu seorang yang lebih besar dan lebih tua, lebih besar pangkatnya, lebih tua umurnya atau lebih kecil kedudukannya, ataupun lebih muda usianya.

Perkataan Para Salaf Terkait dengan Menasehati dan Dinasehati

  • Berkata sahabat Anas Bin Malik  “Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai daripada seorang pemuda yang menasehati seorang yang lebih tua dan sebaliknya, seorang yang lebih tua menasehati seseorang yang lebih muda darinya. Dengan demikian, seorang pemuda yang bertaubat akan menjadi salah satu daripada kekasih Allah.” Lalu ia membacakan hadits Nabi :

أُوْصِيْكُمْ بِالشَّبَاب خَيْراً فَإِنَّهُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً أَلاَ فَإِنَّ اللهَ تعالى أَرْسَلَنِي شَاهِدًا وَ مُبَشِّرًا وَ نَذِيْرًا (رواه البخاري)

“Aku mewasiatkan kepada kalian terhadap para pemuda dengan perlakuan yang baik kepada mereka, karena sesungguhnya mereka itu lebih lunak hatinya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah ltelah mengutusku sebagai saksi pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (HR. Bukhori)

Setelah itu, sahabat Anas Bin Malik melanjutkan perkataanya, “Maka banyak para pemuda yang duduk bersamaku dan sebaliknya banyak orang tua yang menjauhiku.”

  • Anak-anak muda pada zaman Nabi , mereka tidak melaksanakan ibadah kecuali sedikit. Akan tetapi karena Nabi ysudah meninggal dunia, maka mereka menambah ibadahnya dan mereka berkata, “Ketika kami bersama Nabi , maka kami merasa aman dari turunnya azab. Dan tatkala Nabi ymeninggal dunia, maka hilanglah rasa aman itu, sehingga kami berusaha untuk mencegah azab itu dengan banyak beribadah.”

Termasuk sifat orang-orang yang congkak dan bukan orang sholeh ialah ia tidak senang dengan nasehat dan selalu melahap setiap nasehat itu tidak pernah untuk dirinya, akan tetapi untuk orang lain. Berbeda dengan seorang yang sholeh, senang dengan nasehat orang lain daripada menasehati orang lain, karena ia merasa dirinya adalah paling pantas untuk dinasehati dan tidak berhak untuk menasehati.

Adab Menasehati Orang Lain

Akan tetapi, walaupun demikian karena menasehati dan dinasehati merupakan sebuah pekerjaan dan tindakan yang sulit dilakukan oleh hawa nafsu dan selalu dijegal oleh godaan setan, maka hendaknya seseorang melaksanakan sopan santun ketika menasehati, supaya tepat pada sasarannya dan berhasil, yaitu sebagai berikut:

  • Yang pertama, perbaiki niatnya terlebih dahulu. Karena segala tindakan maupun ucapan tergantung kepada niatnya, sebagaimana sabda Nabi :

إنَّما الأَعمالُ بالنِّيَّات (متفق عليه)

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung kepada niatnya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Keberhasilan kita dalam menasehati orang lain sangat tergantung kepada baiknya kita berniat di dalamnya, karena sesungguhnya yang menjadikan orang lain itu berubah bukanlah nasehat kita, akan tetapi hidayah yang Allah turunkan kepadanya. Sebaik apapun suatu nasehat jika tidak beriringan dengan hidayah Allah, maka tidak akan merubahnya. Sedangkan hidayah itu selalu terkait dan teriring dengan niat yang baik.

  • Yang kedua, memberi nasehat itu dilakukan bukan di depan orang banyak, akan tetapi hanya dengan orang yang bersangkutan. Banyak orang yang salah di dalam menasehati orang lain, dengan dia melakukannya didepan orang lain. Sebagaimana perkataan Imam Syafi’i  “Orang yang memberi nasehat di depan orang lain, maka berarti telah mempermalukannya dan bukan malah menasehatinya.”
  • Yang ketiga, menyampaikan nasehatnya dengan kata-kata yang lembut dan baik. Karena suatu nasehat merupakan sesuatu yang sangat sulit diterima oleh seseorang, maka janganlah ditambah dengan kata-kata yang kasar maupun cara yang tidak baik, sehingga sulit untuk diterima bagi mereka yang mendapatkannya.
  • Yang keempat, hendaklah sebelum ia menasehati orang lain, pastikan dirinya sudah melaksanakannya dan dirinya sudah mendapatkan isi daripada nasehatnya.
  • Yang kelima, isi daripada nasehatnya harus berasal dari ilmu dan bukan karena hawa nafsu.
  • Yang keenam, nasehat itu harus beriringan dengan sifat sabar. Karena tidak semua nasehat itu diterima. Bahkan banyak nasehat yang kemudian diiringi dengan perlakuan yang tidak mengenakkan dari orang yang dinasehati. Terkadang diiringi dengan perlakuan kasar dan sebagainya. Oleh karena itu, maka sebelum seseorang menasehati orang lain, ia harus tau dengan konsekuensinya, bahwasanya semua kebaikan yang dilakukan itu dimusuhi oleh setan, sedangkan setan selalu mengganggu orang lain untuk tidak menerima nasehat. Maka hendaklah kita bersabar untuk menghadapi sifat dan sikap daripada orang yang kita nasehati, karena sesungguhnya ia tidak diinginkan oleh setan untuk menerima nasehat kita.

Kesimpulannya, bahwasanya sifat menasehati dan senang dinasehati merupakan sifat seorang yang sholeh, sehingga ketika kita berada dalam situasi yang mengharuskan untuk menasehati sesama saudara muslim, maka hendaknya kita menasehatinya. Dan dalam situasi apapun ketika seseorang menasehati kita, maka bersenanglah dan merasa bahagia dengan nasehat itu, karena tidak ada seorang pun yang memberi nasehat, kecuali karena ia telah mencintai kita.

Semoga kita semua termasuk digolongkan daripada orang-orang yang suka menasehati dan senang dinasehati.Aamiin Ya Mujiibassailiin

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives