Website Resmi Habib Segaf Baharun

Berilmu tapi sombong

Kesombongan Dengan Ilmu

Dan ini merupakan salah satu dari penyakit hati yang paling sulit hilang dan yang paling menjerumuskan serta membinasakan, menghitamkan hati seseorang. Dan tidak akan hilang dari hati seseorang sifat sombong dengan ilmu ini, kecuali telah bermujahadah dengan mujahadah yang luar biasa, dan berupya serta berusaha dengan usaha yang maksimal. Yang demikian itu dikarenakan ilmu itu memang sesuatu yang sangat agung dan tak ternilaikan di mata Allah SWT juga di mata manusia. Ilmu lebih agung daripada harta, kecantikan, kebagusan, maupun kemuliaan. Yang namanya harta maupun kebagusan, ketampanan jika tidak diiringi dengan ilmu dan amal, maka tidak akan mengangkatnya menjadi sebuah kemuliaan bagi pemiliknya. Berkata Ka’ab Al-Ahbar bahwasanya ilmu itu ada penyakitnya sama seperti penyakit harta.

Berkata sahabat Umar Bin Khattab RA: Seorang alim itu jika dia tersesat, maka ikut tersesat dengannya semua orang atau banyak orang. Maka yang demikian itu mencegah dan menjadikan seorang yang alim itu lemah untuk tidak mengagungkan dirinya, jika dibandingkan dengan orang-orang yang bodoh di sekitarnya.

Sedangkan cara untuk mengobati serta menterapi sifat sombong karena keilmuan yang ada pada dirinya, maka mengetahui hal berikut ini :

  • Hendaknya dia mengetahui bahwasanya ilmu yang dia miliki merupakan sebuah bukti Allah SWT kepadanya yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban, karena merupakan amanah yang diberikan Allah kepadanya untuk disebarkan kepada orang banyak lainnya. Sehingga seharusnya seseorang yang alim itu, dialah orang yang paling pertama melakukan segala kebaikan, dan orang yang paling jauh dari melakukan segala kemungkaran, serta yang dilarang oleh Allah SWT. Kepada seseorang yang melakukan kemaksiatan kepada Allah SWT, padahal dia tahu hukumnya itu lebih parah, lebih arogan, dan lebih jahat, serta lebih tidak pantas, ketimbang seseorang yang melakukan kemaksiatan sementara dia tidak tahu akan hukumnya. Oleh karena itu pantas jika Nabi Muhammad SAW bersabda :

قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم :يُؤتَى بِالعَالِمِ يَومَ القِيَامَةِ فَيُلقَى فِي النَّارِ فَتَندَلِق أَقتَابُهُ فَيَدُور بِهَا كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ بِالرّحَا فَيُطِيفُ بِهِ أَهلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ “مَا لَكَ؟” فيقول “كُنتُ آمِرٌ بِالخَيرِ وَلَا آتِيَةٌ وَأَنَهى عَن الشَّرِّ وَآتِيهِ . (متفق عليه)

Nanti orang alim pada hari kiamat akan disodorkan di depan manusia dalam keadaan usus-ususnya terburai, kemudian ditarik. Orang alim itu dalam keadaan kesakitan seperti menariknya seekor himar penggiling gandum. Berputar-putar kemudian ditempakan kepada manusia, dan banyak manusia yang mengenalnya, dan berkata kepadanya “Apa yang engkau lakukan? Mengapa engkau jadi seperti ini?” Maka beliau menjwab “Iya. Aku dulu yang selalu memerintahkan kailian dalam kebaikan, tapi aku tidak melakukannya. Dan akulah yang dulu mencegah orang melakukan kemungkaran sementara aku melakukannya.”. (Muttafaq Alaih)

Kalau Allah memisalkan seseorang yang tahu, tapi tidak mengamalkan seperti himar dan anjing:

قال الله تعالى : مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. (Q.S. )

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).(Q.S. Al-A’raf:185-186)

Jika seseorang yang mempunyai ilmu itu berfikir dan merenungkan bahwasanya bahaya yang akan dialaminya bagi dirinya, melebihi daripada bahaya yang akan dialami oleh orang awam yang tidak mempunyai ilmu  seperti dirinya, maka dia akan berusaha untuk mencegah dirinya daripada kesombongan ini. Kalau kejadian yang sesungguhnya adalah jika seumpama orang yang alim itu termasuk seorang dari penghuni neraka, maka sesungguhnya yang terjadi adalah seekor babi itu lebih baik darinya. Karena seekor babi hina di dunia tapi di akhirat dia tidak akan diciptakan lagi oleh Allah Ta’ala untuk merasakan siksa.

Berbeda dengan seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan sombong  dengan keilmuannya itu. Dan bagaimana seorang yang punya ilmu itu kemudian dia merasa berbangga menyombongkan keilmuannya itu melebihi daripada sahabat Nabi. Semoga Allah merahmati dan meridhoi mereka semua. Padahal mereka dengan keilmuannya yang sangat banyak dan luas itu mereka berkata andaikata, ‘Aku tidak pernah dilahirkan oleh ibuku’. Berkata yang lainnya, ‘Andaikata aku ini seekor rumput yang dimakan oleh binatang ternak. Kemudian keluar dari binatang ternak itu berupa kotoran.  Andaikata aku itu tidak menjadi manusia.’ Berkata yang lainnya, ‘Andaikata aku seekor burung yang kemudian disembelih, lalu dimakan dagingnya, lalu menjadi kotoran.’ Lalu berkata yang lainnya, ‘Andai aku itu tidak pernah hidup di dunia ini sebagai manusia.’

Maka jika seorang yang mempunyai ilmu memandang kepada ini semuanya, maka tentunya dia akan berhasil dengan sifat sombongnya yang akan hilang sampai keakar-akarnya, serta suatu waktu nanti dia akan melihat dirinya adalah paling jeleknya manusia yang ada di muka bumi ini.

  • Seorang yang mempunyai ilmu itu seharusnya mengetahui bahwasanya kesombongan itu tidak pantas untuk dimiliki atau disematkan pada diri kecuali hanya bagi Allah SWT semata. Bahwasanya jika seumpama dia sudah menyombongkan diri, maka dia sudah dimurkai oleh Allah ta’ala dan menjadi seorang yang paling dibenci oleh Allah SWT. Padahal Allah ta’ala menginginkan dan memerintahkan setiap hambanya itu merendahkan diri pada Allah ta’ala maupun hamba-hambanya.

Bahkan di dalam salah satu hadits qudsi Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya engkau wahai manusia, bernilai di mataku jika engkau menganggap pada dirimu itu tidak ada nilainya. Jika engkau menganggap bahwasanya di dalam dirimu ada nilai, maka disaat itulah ketahuilah engkau tidak mempunyai nilai sama sekali di mataku.” Setelah membaca dan mendengar hadits qudsi ini, setiap hamba itu setiap manusia itu berusaha mencari ridho serta cinta daripada tuhannya. Oleh karena itu karena sebab dua perkara ini, hendaknya setiap orang alim itu menghindari dari sifat kesombongan, justru dia harus merasa bahwa dirinya adalah seseorang yang paling rendah.

Sebagaimana perkataan Habib Abdullah Al-Haddad, “Barang siapa yang berada di suatu majlis, baik dia berada di depan maupun di belakang, maka yang paling berhak mendapat kebaikan majlis tersebut adalah yang paling merasa dirinya tidak bernilai dan paling rendah daripada mata manusia maupun di mata Allah, maka dialah yang paling banyak mendapat kebaikan dari majlis itu.”

Semoga kita semuanya termasuk yang berhak mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta mengamalkan daripada ilmu tersebut dan jauh dari sifat-sifat yang dimurkai oleh Allah SWT, terutama sifat sombong ini. Amin amin mujibassailin.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives