Website Resmi Habib Segaf Baharun

Mengapa harus Amar Ma’ruf Nahi Munkar?

      Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah suatu ibarat dari berseru kepada kebaikan dan melarang untuk melakukan kemungkaran. Ia menjadi sebuah barometer dari tegaknya syari’at agama, maupun tidak tegaknya. Karena amar ma’ruf dan nahi mungkar, Allah SWT menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para Rasul dan Nabi, begitu pula Allah SWT mengutus para Rasul untuk melaksanakannya. Telah sepakat semua umat akan kewajiban daripada amar ma’ruf dan nahi mungkar, walaupun kewajiban disini dalam batasan fardhu kifayah. Bahkan amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan sifat yang tidak terpisahkan dari sifat umat Nabi Muhammad sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT berikut ini :

وَلتَكُن مِّنكُم أُمَّةٌ يَدعُونَ إِلَى ٱلخَيرِ وَيَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ‌ۚ وَأُوْلَـٰئِكَ هُمُ ٱلمُفلِحُونَ (أل عمران: ١٠٤)

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.(Q.S. Ali Imron :104)

Dan Allah SWT berfirmanmengenai ancaman bagi mereka yang tidak melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam ayat dan hadits berikut ini:

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِى إِسرَاءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُ ۥدَ وَعِيسَى ٱبنِ مَريَمَ‌ۚ ذَالِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعتَدُونَ (٧٨) كَانُواْ لَا يَتَنَاهَونَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ‌ۚ لَبِئسَ مَا كَانُواْ يَفعَلُونَ (٧٩) (المائدة: 78-79)

Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Q.S. Al-Maidah:78-79)

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : مَن رَأَى مِنكُم مُنكَرًا فَليُغَيِّرهُ بِيَدِهِ ، فَإِن لَم يَستَطِع فَبِلِسَانِهِ ، فَإِن لَم يَستَطِع فَبِقَلبِهِ ، وَذَلِكَ أَضعَفُ الإِيمَان. (رواه مسلم)

Barang siapa yang melihat sebuah kemungkaran, maka hendaknya dirubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu melaksanakannya, maka dengan lidahnya. Dan jika dia tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Yang demikian itu merupakan keimanan yang paling lemah. (H.R. Muslim)

Dan Nabi bersabda terkait dengan mereka yang tidak mau melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar di dalam haditsnya berikut ini:

عن حذيفةبن اليمان رضي الله عنه: عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: وَالَّذِي نَفسِي بِيَدِهِ، لَتَأمُرَنَّ بِالمَعرُوفِ وَلَتَنهَوُنَّ عَن المُنكَرِ أَو لَيُوشِكَنَّ الله أَن يَبعَثَ عَلَيكُم عِقَابًا مِنهُ ثُمَّ تَدعُونَهُ فَلَا يُستَجَابَ لَكُم. (رواه الترمذي

Demi Dzat yang nyawaku ada di tangan-Nya… kalian hendaknya memerintahkan dengan ma’ruf dan melarang dari kemungkaran, atau Allah SWT akan mengirim untuk kalian sebuah adzab dari-Nya sehingga engkau berdo’a kepada Allah SWT, maka doa kalian tidak akan diterima-Nya. (H.R. Turmudzi)

Kesimpulannya bahwasanya amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan fardhu kifayah hukumnya dimana jika salah satu dari kaum muslimin telah melaksanakannya, maka gugur dosa dan kewajiban kepada yang lainnya, akan tetapi pahalanya tetap diperuntukkan bagi yang melaksanakannya. Dan jika tidak ada seorangpun yang melaksanakannya, maka berdosa semuanya dan akan menyebar kemaksiatan diantara masyarakat serta menjadi sebab karenanya mereka mendapatkan adzab daripada Allah SWT. Oleh karena itu, amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan solusi supaya maksiat tidak menyebar diantara masyarakat dan terhindar daripada berbagai macam bala’ yang Allah SWT turunkan karena sebab dosa yang dilakukan.

Dan hendaknya bagi orang yang mengetahui ada seseorang yang melakukan dosa dan kesalahan, untuk mengingatkan, menasehati, dan memberitahukannya bahwasanya apa yang dilakukan merupakan sebuah dosa dan kemungkaran, baik mereka yang melakukannya adalah masyarakat luas, apalagi keluarga yang berada dalam kekuasaannya. Jika dia tidak mau meninggalkan, maka hendaknya dibacakan hadits-hadits maupun ayat-ayat yang mengancam bagi mereka yang melakukan dosa yang semacam itu. Dan jika tidak jera juga, maka hendaknya kita menekan dan mengancamnya dengan pukulan maupun menghilangkan sebab-sebab kemungkaran secara langsung. Dan jika sudah sampai kebatas tersebut, hendaknya kita serahkan kepada pemerintah karena hal itu merupakan tugas mereka. Itulah maksud dari kandungan hadits yang disampaikan oleh Nabi tersebut di atas.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives