Website Resmi Habib Segaf Baharun

Abu Utsman Al-Khairi bersama Muridnya dan Kemulian Akhlaknya

  Diriwayatkan bahwasanya Abu Utsman Al-Khairi diundang oleh salah satu muridnya. Dan adalah murid tersebut hanya ingin mengujinya dengan undangannya itu. Hingga suatu waktu ketika gurunya itu diundang ke rumahnya tatkala sudah tiba di rumahnya maka dia katakan, “Siapa bilang guru, aku mengundangmu? Maka pulanglah!” Abu Utsman ke rumahnya. Tak lama kemudian setelah dia kembali, dipanggil lagi dan disuruh masuk ke rumahnya. Setelah beberapa saat dia katakan, “Maaf guru… ternyata aku tidak mempunyai makanan untuk disuguhkan untukmu. Silahkan kembali lagi pada lain waktu.” Maka pulanglah dia. Suatu waktu dia diundang lagi ke rumahnya. Tatkala dia kembali ke rumah muridnya itu, ketika dibuka pintu rumahnya dia berkata, “Maaf guru… bukan sekarang maksudku. Silahkan nanti saja kembali kepadaku.” Maka Abu Utsman Al-Khairi kembali lagi ke rumahnya. Lalu diundang kembali pada waktu yang telah ditentukan. Dan ketika dia datang pintu rumahnya tidak dibuka, maka dia kembali lagi ke rumahnya. Kemudian diberitahukan bahwasanya dia akan membuka pintunya. Maka ketika sampai dia tidak mau membuka pintunya dan kejadian itu berulang hingga enam kali. Sehingga pada kunjungan yang keenam, si murid itu bersimpuh di kakinya sembari berkata, “Maaf guru… Aku melakukan ini semua hanya untuk menguji akhlakmu.” Maka Abu Utsman berkata kepadanya, “Apa yang tampak pada diriku sebenarnya adalah akhlaknya seekor anjing. Ketika anjing itu diundang untuk sebuah makanan, maka dia akan datang. Ketika dia diusir maka dia akan pergi.” Yang semacam ini tidak akan mungkin terjadi pada seorang manusia kecuali setelah menerapi jiwanya dan melawan hawa nafsunya.

Diriwayatkan juga Abu Utsman Al-Khairi suatu waktu dia melewati suatu perkampungan. Tiba-tiba ketika dia melintas diantara perumahan, dia dilempar dengan serbuk dari arang sehingga baju dan wajahnya menjadi hitam karenanya. Ketika dia mendapatkan hal itu terjadi pada dirinya, maka dia langsung turun dari kudanya dan sujud kepada Allah  untuk melaksanakan sujud syukur. Dan setelah itu dia membersihkan baju dan tubuhnya dari serbukan abu tomang tersebut. Ketika ditanyakan kepadanya, “Apakah engkau tidak menegur mereka dan memarahinya?” Maka dia menjawab, “Sesungguhnya seseorang yang berhak mendapatkan api neraka (maksudnya dirinya) ketika dia digantikan Allah dengan lemparan abu tomang, tidak boleh baginya untuk marah. Karena itu jauh lebih ringan daripada adzab naraka yang sebenarnya.”

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives