Website Resmi Habib Segaf Baharun

Menahan amarah dan tidak melampiaskannya

 

Berapa banyak sahabat Nabi yang datang kepada Nabi  meminta wasiat kepadanya, maka kemudian Nabi y berwasiat :

أَنْ لاَ تَغْضَبَ

“Janganlah engkau marah.”

Yang demikian itu dikarenakan bahwasanya jika seseorang itu marah menandakan tiga hal pada dirinya.

Yang pertama, dia merasa dirinya lebih baik daripada orang yang dia marahi, dan itu merupakan sifat sombong. Karena jika seseorang merasa bahwasanya orang itu lebih tinggi derajatnya dan lebih baik darinya, maka dia tentunya tidak akan memarahinya. Misalnya seperti seorang murid kepada gurunya, atau seorang awam kepada orang yang dikenal sebagai waliyullah, maka ia tidak akan memarahinya, dikarenakan takut akan kena tulahnya. Dari kesimpulan ini, dapat dikatakan bahwasanya seseorang tidak akan marah kecuali dia merasa dirinya lebih baik daripada orang yang dimarahinya.

Yang kedua, dia tidak beriman dan tidak meyakini akan ketentuan Allah, karena sesungguhnya para manusia tidak mempunyai kekuatan bahkan kehendak sendiri, kecuali dengan kehendak dan ketentuan dari Allah . Sehingga tatkala dia sudah tidak meyakini bahwa segala sesuatu adalah ketentuan Allah, maka dia mencari sebab dan menyalahkan sebab-sebab tersebut. Padahal Nabi y telah menjelaskan kepada kita bahwasanya tidak ada satu gerakan dan perkataan pun di dunia ini, kecuali hal itu terjadi dengan kehendak Allahl. Tanpa kehendak-Nya, maka tidak mungkin sesuatu akan terlaksana. Tidak ada seorang pun yang mampu menggerakkan suatu gerakan, dan tidak ada seorang pun yang mampu mengucapkan suatu ucapan kecuali karena kehendak Allah . Sehingga pantas jika Nabi y bersabda di dalam haditsnya memberikan pesan dan kesan kepada kita semuanya :

كُنْ مَعَ الْخَلْقِ كَأَنْ لاَ خَلْقَ

“Jadilah kamu itu bersama makhluk seakan-akan tidak ada makhluk.” (HR….)

Artinya, kita dituntut untuk melihat bahwa yang sesungguhnya bertindak bukan mereka, karena sesungguhnya yang menggerakkan segala sesuatu adalah Allah, sedangkan manusia hanyalah bagaikan boneka ataupun mainan remot yang dikendalikan oleh pemegangnya. Dalam hal ini, pengendali remotnya adalah Allah . Sebagaimana Allah  berfirman di dalam Al-Qur’an :

وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَ مَا تَعْمَلُوْنَ (الصافات : 96)

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Ash-Shaffat : 96)

Yang ketiga, dia bukanlah seseorang yang terdidik dirinya dan terbina jiwanya, serta terkendali hawa nafsunya. Sehingga pantas jika Nabi y bersabda di dalam haditsnya :

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرْعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَب)متفق عليه)

“Bukanlah orang yang hebat itu orang yang bisa mengalahkan lawannya dalam bergulat, akan tetapi orang yang hebat itu adalah orang menahan marah ketika dia dapat melampiaskannya pada seseorang.” (Muttafaqun ‘Alaih)

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives