Website Resmi Habib Segaf Baharun

Sebab-Sebab Sifat Iri

  Sifat iri adalah jika seseorang merasa  tidak senang dengan apa yang diberikan oleh Allah Ta’ala berupa karunia kepada orang lain dan dia mengharapkan kenikmatan itu hilang darinya. Sifat iri selalu terjadi pada diri seseorang yang mendapatkan kenikmatan. Sebab-sebab seseorang iri itu karena banyak hal, tapi umumnya lewat tujuh pintu:

  1. Permusuhan
  2. Kesombongan
  3. Ujub
  4. Takut tidak tercapainya tujuan
  5. Cinta kepada kepemimpinan
  6. Jiwa yang kotor
  7. Kebakhilan

Karena biasanya orang yang bakhil itu tidak suka jika ada suatu kenikmatan pada seseorang yang dia iri kepadanya. Yang semacam ini bukan hanya terjadi didalam yang sejawat atau satu jenis pekerjaan, bisa juga terjadi pada yang tidak sejawat. Misalnya rakyat jelata benci kepada seorang raja dan iri kepadanya. Dalam artian dia ingin kenikmatan yang ada pada raja itu hilang darinya karena sebab dia telah mendzalimi rakyat jelata tersebut. Sedangkan rincian dan penjelasannya adalah sebagai berikut:

Sebab yang pertama adalah permusuhan dan kebencian, ini merupakan sebuah sebab yang paling utama. Banyak orang merasa iri kepada orang lain karena biasanya jika orang diganggu oleh orang lain karena suatu sebab, atau dia menentang kepada tujuan yang dia tuju, maka orang itu pasti akan membencinya dan akan terpendam kebencian itu di  dalam hatinya. Sedangkan sifat dengki itu menuntut dirinya untuk membalaskan dendamnya itu. Dan ketika seseorang tidak mampu untuk melampiaskan kebenciannya dengan suatu tindakan, maka terkadang dia lampiaskan dengan sebuah keinginan dan harapan. Hingga tatkala menimpanya suatu musibah, maka dia akan senang dengannya dan dia menyangka hal itu terjadi  karena Allah membalaskan untuknya dengan dasar kebenciannya kepada orang itu. Karena dia telah melakukan kesalahan kepada dirinya, sehingga Allah membalasnya dengan musibah itu. Bisa jadi akan terlintas di hatinya bahwa orang itu tidak mempunyai kedudukan di sisi Allah, dimana Allah tidak membalas dirinya karena sifat irinya pada orang itu  sehingga  berarti yang benar adalah dirinya dengan sifat irinya tersebut. Dan  ini adalah sesuatu yang berbahaya bagi agamanya karena mengira bahwasanya apa yang dilakukannya itu benar padahal salah dan jelas-jelas  bathil karena itu adalah suatu sifat iri yang mengandung unsur dosa.

Kesimpulannya bahwa sifat iri itu  mengharuskan seseorang untuk memusuhi dan membenci, tidak akan terlepas dari keduanya. Sedangkan orang yang bertaqwa berusaha untuk membenci lintasan-lintasan semacam itu dan memeranginya dengan cara menerapinya dan bermujahadah darinya.

Sebab kedua adalah memandang dirinya lebih  mulia sehingga akan berat rasa hatinya jika ada orang lain yang  berada diatas kedudukannya atau lebih dimuliakan dan lebih dihormati oleh orang lain. Maka jika sebagian teman-temannya yang sebaya dengannya dan sejawat memperoleh kekuasaan yang lebih atau ilmu dan harta melebihi miliknya, maka dia takut teman tersebut akan sombong kepadanya sedangkan dia tidak bisa mengatasi kesombongannya dan kebanggaan orang itu kepadanya. Dengan sifat irinya itu, sebenarnya dia tidak bermaksud untuk menyombongkan diri di depannya, akan tetapi dia tidak mau ada orang lain sombong kepadanya.

Sebab yang ketiga adalah sombong. Jika tabiat seseorang itu sombong, maka dia tidak berkehendak jika ada orang lain yang merendahkannya begitupula dibawahnya yang mana nantinya dia akan memerintah dirinya dengan suatu pekerjaan sementara dia harus mengikuti dan tunduk kepadanya. Jika seseorang memperoleh suatu kenikmatan, dia takut tidak dapat sombong kepadanya bahkan ditakutkan justru dia akan sombong diatasnya. Dan termasuk jenis iri yang semacam ini, kesombongan orang-orang quraisy kepada Nabi Muhammad SAW dimana mereka berkata, “Bagaimana seorang anak yatim yang kedudukannya berada di bawah kita kemudian dia akan memimpin kita dan menjadi seorang Nabi?”

Sebab yang keempat adalah merasa ujub dengan amalnya, tindakan, maupun  ucapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami.

(Q.S. Yasin:15)

Dalam firman lain:

Apakah patut bagi kami untuk percaya kepada dua orang seperti kita. (Q.S. Al-Mu’minun:47)

وَلَئِن أَطَعتُم بَشَرًا مِّثلَكُم إِنَّكُم إِذًا لَّخَـٰسِرُونَ (٣٤(

Sesungguhnya jika kami menaati manusia seperti kamu, niscaya bila demikian terjadi, kamu tidak akan pernah menjadi orang yang merugi. (Q.S. Al-Mu’minun:34)

Dimana mereka merasa kagum bahwa manusia seperti mereka mempunyai kedudukan risalah yang tinggi dan mendapatkan wahyu serta dekat dengan Allah SWT. Lalu kemudian timbullah kedengkian mereka kepada Nabi dan berharap hilangnya nikmat tersebut dari mereka.

Sebab yang kelima adalah takutnya tidak tercapai keinginannya. Biasanya yang semacam ini terjadi kepada yang sejawat atau yang sebaya dengannya, sama-sama santri, sama-sama pedagang, sama-sama pejabat dan yang lain-lain. Dari pintu inilah kemudian seorang wanita yang dimadu membenci dan iri kepada madunya. Begitupula antara satu pejabat dengan pejabat lainnya, antara satu pedagang dengan pedagang lainnya, antara anak-anak untuk mendapatkan cinta kedua orangtuanya , antara santri untuk mendapatkan perhatian dari gurunya, antara orang-orang dekat raja untuk mengambil hati sang raja supaya mendapatkan jabatan yang lebih tinggi daripada jabatannya, begitupula antara satu orang alim  dengan ulama lainnya berebutan untuk mendapatkan pengaruh disuatu tempat.

Sebab yang keenam adalah senang dengan kepemimpinan. Yang demikian itu seperti jika seseorang  ingin tidak ada tandingan dirinya yang akan menyainginya dalam bentuk apapun.

Sedangkan sebab yang ketujuhadalah karena kekotoran jiwanya.  Karena berangkat dari jiwanya yang kotor  maka timbullah lintasan dan perbuatan yang tidak baik juga seperti hatinya yang keji dan kotor.

Semoga kita semua diselamatkan dari tujuh sebab ini, sehingga tidak ada sifat iri dalam hati kita Amin ya Rabbal’alamin…

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives