Website Resmi Habib Segaf Baharun

Janganlah Sombong dengan nasab yang mulia

Ujub atau sombong dengan nasab, sehingga dia menyangka bahwasanya dengan nasabnya yang mulia itu dia akan selamat, begitupula kakek moyangnya. Dan bahwasanya dia akan diampuni dosa-dosanya karena mereka, dan dia berhayal seakan-akan semua makhluk baginya lebih rendah darinya. Sedangkan cara mengobatinya dan menerapinya adalah hendaknya dia mengetahui bahwasanya kapan walaupun nasabnya mulia, akan tetapi jika dia itu tidak sejalan dengan ajaran mereka, tidak berakhlak seperti akhlaknya mereka, bahkan menyalahi aturan dan ajaran mereka, di atas itu semuanya dia  menyangka bahwa dia akan ikut serta dan digolongkan  bersama kakek moyangnya itu. Maka ini adalah sebuah kebodohan yang sangat parah.

Dan jika seumpama dia termasuk orang yang meniti jalan kakek moyangnya dan mengikutinya serta berpegang teguh dengan ajarannya, maka ketahuilah bahwasanya bukanlah ujub itu jalan mereka dan sifat mereka. Justru mereka menjauhi sifat-sifat ujub maupun sifat-sifat yang menjadi penyakit  hati mereka. Bahkan menjadi akhlak mereka dan terpaku  didalam diri mereka adalah mengagungkan makhluk yang lainnya dan menghinakan diri mereka merupakan golongan mereka berkat ketaatan dan ilmu yang mereka dapatkan serta akhlakul karimah yang selalu mereka terapkan dalam keseharian mereka. Maka hendaknya jika dia ingin mendapatkan kemuliaan seperti yang didapatkan kakek moyangnya, maka hendaknya meniru mereka di dalam mendapatkannya bukan hanya bangga dan ujub dengan nasab.

Berapa banyak yang sama nasabnya, sama qobilahnya,  tapi dia tidak beriman kepada Allah dan hari kiamat. Maka orang yang semacam itu disisi Allah lebih hina daripada anjing dan lebih hina daripada babi. Sehingga pantas jika Allah berfirman di dalam Al-Qur’an :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.(Q.S. Al-Hujurat : 13)

Maksud dari ayat itu adalah tidak ada perbedaan dalam nasab kalian. Karena kalian berasal dari satu manusia, yaitu Nabi Adam AS.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan faedah dari pada nasab :

Dan kami jadikan kalian perkelompok-kelompok dan berkabilah-kabilah yang gunanya adalah untuk saling berkenalan satu sama lainnya.  (Q.S. Al-Hujurat : 13)

Bukan untuk saling berbangga. Dan kemuliaan itu dengan taqwa, bukan dengan nasab.

Sehingga Allah Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa kepada-Nya. (Q.S. Al-Hujurat : 13)

Diriwayatkan bahwasanya datang seseorang dan berkata kepada Nabi SAW, dan bertanya:

قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم :إِذ قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم “مَن أَكرَم النَّاسِ وَأَكيَسهُم؟” فقال “أَكثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكرًا وَأَشَدُّهُم لَهُ استِعدَادًا” . (رواه ابن ماجه)

Datang seseorang dan bertanya kepada Nabi “Siapakah yang paling mulia diantara manusia dan siapakah yang paling pintar diantara mereka?” Maka Nabi SAW tidak menjawab siapa yang bernasabkan kepadaku, akan tetapi menjawabnya dengan jawaban, “Yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling banyak persiapan untuknya.”

Dan lihatlah! Sebab turunnya ayat itu adalah ketika Bilal Bin Rabbah pada peperangan Fathul Makkah untuk mengumandangkan adzan sehingga berkata Al-Harits Bin Hisyam, Suhail Bin Amr, dan Kholid Bin Usaid, “Hamba yang hitam ini, dia mengumandangkan adzan di atas Ka’bah.” Maka kemudian turunlah ayat:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Lalu Nabi SAW bersabda :

قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم :إِنَّ اللهَ قَد أَذهَبَ عَنكُم عَيبَةَ الجَاهِلِيَّةِ – أي كَبِيرَهَا – كُلُّكُم بَنُو آدَم وَآدَم مِن تُرَابٍ (رواه ابو داود و ترمذي)

Sesungguhnya Allah SWT telah menghilangkan dari kalian kebiasaan jahiliyah. Maksudnya, ketidaksetaraan dari mereka. Kalian semuanya anak Adam, dan Adam tercipta dari tanah liat. (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)

Sabda Nabi SAW:

قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم :يَا مَعشَرَ قُرَيش… لَا يَأتِي النَّاسُ بِالأَعمَالِ يَومَ القِيَامَةِ وَتَأتُونَ بِالدُّنيَا تَحمِلُونَهَا عَلَى رِقَابِكُم تَقُولُونَ “يَا مُحَمَّد… يَا مُحَمَّد…” فَأَقُولُ هَكَذَا – أي أَعرض عَنكُم -(رواه الطبراني)

Wahai orang-orang Quraisy, jangan kalian sampai datang pada hari kiamat dengan membawa harta benda seperti manusia membawa amal mereka dan harta benda yang kalian bawa itu ada di atas pundak-pundak kalian. Lalu kalian berkata, “Wahai Muhammad… Wahai Muhammad…” Maka aku berkata begini. Maksudnya aku berpaling dari kalian.(H.R. Thabrani)

Maka dalam hadits ini tersirat bahwasanya Nabi SAW berkata, jika mereka condong kepada mereka (orang yang dinasabkan), maka nasab mereka kepada qobilah Quraisy tidak bermanfaat bagi mereka. Itupun sebagai suatu peringatan bagi kita. Bagaimana Nabi Nuh as. tidak bisa menyelamatkan putranya yang keluar daripada jalannya, sehingga dia termasuk orang yang tenggelam, yang termasuk orang yang kafir kepada Allah SWT. Begitu pula Nabi Nuh as. tidak dapat menyelamatkan istrinya, begitulah Nabi Luth tidak dapat menyelamatkan istrinya dan sebagainya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives