Website Resmi Habib Segaf Baharun

Prioritaskan Akhiratmu dari pada Duniamu

    Kehidupan didunia ini merupakan perantara dan sarana kita utuk menuju akhirat maka seyogyanya seorang manusia itu tidak menjadikan dunia sebagai prioritas kehidupannya dan  diantara ciri-ciri orang sholeh, ia selalu mendahulukan urusan akhiratnya ketimbang urusan dunianya. Yang demikian itu berdasarkan sabda Nabi  yang berbunyi:

عَن أَبِي يَعلَى شَدَّاد بن أَوْس رضِي الله عنه عنِ الَّنبي صلّى الله عليه وسلّم قال :” الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفسَه وعمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ والعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَه هَوَاهَا وَتَمَنَّى على اللهِ الأَمَانِي.(رواه الترمذي)

“Seorang yang cerdik itu adalah yang tindakannya selalu identik dengan akhirat dan selalu mengevaluasi amalnya. Sedangkan orang yang lemah adalah seorang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan tindakannya selalu berupa angan-angan.” (HR. At-Tirmidzi)

Apapun yang kita usahakan dan upayakan untuk mendapatkan dunia, ketahuilah bahwa kita akan menggunakannya sampai batas umur 70 tahun. Sedangkan apapun yang kita usahakan dan upayakan terkait dengan urusan akhirat tidak ada batas akhirnya, karena akhirat adalah tempat yang abadi. Maka dari itu, para ulama’ berkata, “Andaikata dunia terbuat dari emas, akan tetapi hanya sesaat menikmatinya. Dan andaikata akhirat terbuat dari batu, akan tetapi selamanya kita tinggal di dalamnya, maka tentunya seorang yang cerdik itu akan lebih memilih akhirat ketimbang dunia.” Apapun yang mereka lakukan terkait dengan dunia, harus terkait juga dengan akhiratnya. Sehingga jika mereka melakukan sesuatu yang mubah, yang halal, dan merupakan adat-istiadat manusia atau kebutuhan biologisnya, mereka meniatkannya dengan niat yang baik, sehingga  urusan dunia mereka tersebut terkait dengan akhirat dan mengandung pahala serta ridho dari Allah l. Misalnya saat tidur, diniati dengan niat yang baik. Begitu pula ketika makan, mandi, dan aktivitas harian lainnya.

Para orang sholeh, ia mempunyai waktu-waktu tertentu untuk dunianya dan waktu-waktu tertentu untuk akhiratnya. Sehingga kita dapati mereka setiap habis sholat lima waktu, pasti mereka duduk dahulu untuk membaca wirid dan doa. Terlebih lagi jika setelah sholat subuh dan sholat maghrib, mereka membaca wirid-wirid yang panjang, seperti wirdul latif, rotib Haddad, Yaasiin, tadarus, dan yang lainnya. Bagi mereka orang-orang sholeh, musibah yang terkait dengan kehilangan akhirat itu lebih agung daripada kehilangan dunianya. Sebagaimana diceritakan, Habib Umar Bin Abdurrahman Al-Athos  tatkala dia mendapatkan musibah dengan kematian anaknya, maka datanglah para pelayat dengan jumlah yang sangat banyak hingga pintu rumahnya roboh karenanya. Di saat itulah beliau menangis, maka para pelayat itu mengatakan, “Wahai Habib! Hanya dengan sebab ini engkau menangis? Kami akan menggantikannya dengan yang lebih bagus dan lebih kuat dari semula.” Maka beliau menjawab, “Tidak. Bukan pintu itu yang menyebabkanku menangis, akan tetapi aku menangisi nasib kalian. Demi Allah! Alangkah besarnya musibah dunia di dalam pandangan kalian. Demi Allah! Andaikata aku tertinggal takbiratul ihram bersama imam, hal itu aku anggap sebuah musibah yang lebih besar daripada aku kehilangan seorang anak.”

Berkata Yunus Bin Ubaid , “Barang siapa yang tidak mempunyai sebuah bacaan dari tasbih dan tahlil, yang mana hal itu lebih baik daripada dunia seisinya, maka pada hakikatnya dia termasuk orang yang lebih mengutamakan urusan dunia daripada akhiratnya.”

Berkata Malik Bin Dinar , “Barang siapa yang meminang dunia, maka dunia akan meminta agamanya sebagai maharnya. Bahkan ia tidak akan menerima, kecuali diserahkan agamanya secara utuh kepadanya. Itulah tuntutan daripada dunia.”

Berkata Syeikh Hasan Asy-Syadzili , “Dunia itu adalah putri dari iblis, maka barang siapa yang meminangnya apalagi sampai mengawininya, jangan heran jika ayahnya selalu datang kepadanya. Bahkan jangan heran jika iblis itu akan tinggal bersamanya, karena di dalam rumahnya ada putrinya.”

Maka, pandangan yang benar terkait dengan dunia adalah pandangan bahwa dunia itu sebuah jembatan menuju akhirat. Dunia itu merupakan jembatan untuk meraih ridho Allah dan derajat yang tinggi di sisi-Nya. Dan dunia itu adalah ladang untuk ditanami suatu tanaman yang kita akan memanennya kelak di akhirat. Karena memang Allah menciptakan dunia itu sebagai cobaan dan ujian, untuk membuktikan siapa yang bersungguh-sungguh untuk meraih ridho-Nya dan siapa yang bermain-main untuk-Nya, maka Allah ciptakan dunia itu melalaikan. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (ال عمران: 185)

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Dan di dalam ayat lain Allah l berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَة خَيْرٌ لِلَّذِين يَتَّقُون أَفَلاَ تَعْقِلُون (الأنعام: 32)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am : 32)

Kita tidak dilarang untuk mencari dunia sebanyak-banyaknya, untuk menjadi orang kaya sekalipun, karena terdapat juga dari para sahabat Nabi yang mana mereka adalah orang kaya, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abdurrahman Bin ‘Auf, dan Utsman Bin Affan. Akan tetapi yang dilarang di sini adalah mencintai dunia dan menjadikan dunia itu berada di dalam hati, dengan begitu dia mengutamakan urusan dunia daripada urusan akhiratnya. Padahal Nabi Muhammad  telah bersabda di dalam haditsnya :

عَن عَائِشَة رضِي الله عَنهَا عَنِ النَّبي صلَّى الله عليه وسلّم قال: رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيها. (رواه مسلم)

“Dua rakaat saja yang dilaksanakan sebelum sholat subuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

Maka silakan kita mencari dunia yang banyak. Silakan menjadi orang terkaya di dunia. Akan tetapi, jangan jadikan dunia itu berada di dalam hati. Biarkan dunia itu hanya di tangan. Dengan kata lain, jangan gara-gara dunia, kemudian kita akan berdosa karenanya. Dan jangan gara-gara dunia, kemudian kita akan meninggalkan suatu kewajiban. Apalagi gara-gara dunia, kemudian kita akan melupakan ridho Allah dan mengutamakan ridho manusia.

Semoga kita semua dan seluruh kaum muslimin termasuk yang memiliki banyak harta dunia yang bisa membantu kita untuk meraih akhiratnya, akan tetapi setelah di akhirat tidak ada hisabnya. Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin…

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives