Website Resmi Habib Segaf Baharun

Jihad Menjadi Jalan Cepat Menuju Surga

Daripada suatu ibadah yang dianjurkan agama Islam adalah amar ma’ruf nahi munkar, menyuruh kebaikan dan melarang keunkaran. Bentuk amar ma’ruf dan nahi munkar sangatlah banyak, dengan berda’wah, jihad fisabilillah, belajar ilmu dan masih banyak lagi.

Telah banyak datang daripada Ayat dan Hadits yang membicarakan tentang jihad, dan termasuk paling tingginya peringkat amar ma’ruf nahi munkar, bahkan paling mulianya dan paling utamanya, karena jihad merupakan perintah puncaknya kebaikan yaitu Tauhid dan Islam, dan larangan dari sejelek-jeleknya kejahatan dan dosa yaitu Kafir dan Syirik kepada Allah.

Jihad yang pertama adalah mengajak kepada islam dan berperang menggunakan pedang, sedangkan paling besarnya jihad itu sendiri yaitu jihad nelawan hawa nafsu, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan ketika para sahabat pulang dari peperangan: Sesungguhnya kita telah pulang dari jihad yang kecil (perang) menuju jihad yang besar (hawa nafsu).

Alah SWT berfirman:

و قاتلوهم حتى لا تكون فتنة و يكون الدين لله

Banyak daripada sahabat Rasulullah SAW yang meninggalkan keluarganya, anak dan istriya hanya untuk berjihad menegakkan agama Allah dan bangga jika mendapatkan kemuliaan mati syahid.

Diceritakan bahwasanya salah sahabat ahlu sufi suatu hari ditanya oleh Rasulullah SAW,

“Apakah engkau sudah menikah wahai sahabatku?”

“Belum wahai Rasulullah”. jawabnya

“Apakah kau ingin menikah?” Rasulullah bertanya lagi, akan tetapi wajah sahabat itu berubah sedih, sehingga membuat Rasulullah SAW heran.

“Tidak wahai Rasulullah” jawabnya lemah.

Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi “Apakah kau ingin menikah?” sahabat Rasulullah diam karena dia sadar atas kekurangan rupa fisik dan materinyalah penyebab ia minder untuk meminang gadis dan menjadikannya isteri.

Rasulullah SAW paham dengan jalan fikiran sahabatnya itu, lalu Rasulullah SAW mengambil secarik kertas dan pena, menuliskan sesuatu didalamnya lalu memerintahkan sahabatnya itu untuk mengantarkan surat tersebut kepada salah satu bangsawan dan saudagar kaya pada saat itu.

Sesampainya di rumah saudagar kaya itu, saudagar kaya itu sedang ada pertemuan dengan tamu-tamu pentingnya, begitu melihat Sahabat Rasulullah yang bertamu kerumahnya ia berkata “oh…ternyata kamu wahai ,” ia menganngguk, “ada perlu apa engkau datang kesini?”. sahabat ahlu sufah menyodorkan surat dari Rasulullah, lalu saudagar itu menerimanya dan membacanya.

“apakah benar surat ini dari Rasulullah?” tanyanya tak percaya.

“benar wahai tuan…” jawabnya.

tak berselang lama, putri saudagar kaya tersebut muncul dari dalam rumahnya menemui ayahnya, “ada apa wahai ayah?”

“dia datang untuk melamarmu” jawab ayahnya.

lalu putrinya tersebut meihat kepada sahabat Rasulullah tersebut dan berkata” dia datang melamarku?, orang yang lebih kaya dan tampan saja aku tolak apalagi dia?”.

“wahai sahabat Rasulullah, sampaikan salam ku kepada Rasulullah aku meminta maaf kalau putriku menolak lamarannya”.

“jadi Rasulullah yang melamarku untuknya wahai ayah?”. saudagar kaya itu mengangguk. “kalau Rasulullah yang melamarkanku untuknya aku terima lamarannya”.

sahabat ahlu suffah tersebut pun pulang dengan wajah gembira, menggambarkan isi hatinya yang sedang bahagia setelah lamarannya diterima oleh wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi istriya.

“kenapa engkau wahai sahabatku, wajahmu terlihat sangat bahagia?” tanya Rasulullah begitu sampai di kediaman Rasulullah SAW.

“Lamaranku diterima wahai Rasulullah?”

“sekarang pergilah kepasar, persiapkan semua pernikahanmu”. wajah sahabatnya berubah sedih kembali.

“aku tak mempunyai harta sedikitpun wahai Rasulullah”. mendengar perkataan sahabatnya tersebut, Rasulullah SAW mengumpulkan semua sahabat-sahabat yang lainnya.

“wahai para sahabatku, bantulah saudaramu yang sedang membutuhkan pertolongan untuk pernikahannya, barang siapa yang membantu saudaranya maka dia akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah SWT”

Mendengar Rasulullah yang mengatakan demikian para sahabat mengumpulkan hartanya untuk sahabat ahli sufi tersebut, dan seketika itu sahabat ahli sufi mendadak menjadi orang kaya.

“sekarang pergilah ke pasar dan belilah semua keperluanmu untuk menikah besok”. perintah Rasul, sahabat  ahli suffah langsung pergi kepasar membeli semua  keperluannya besok untuk menikah.

begitu datang dari pasar para sahabat Nabi yang lainnya gempar karena mata-mata orang muslim melihat pasukan kafir sedang menuju madinah, “ada apa?” tanyanya panik.

“kita akan bersiap untuk perang”. jawab sahabat yang lainnya. lalu buru-buru sahabat  ahli sufi  pergi menemui Rasulullah meminta izin untuk ikut perang.

“besok engkau akan menikah wahai sahabatku, tingallah disini perang itu bisa kapan saja wahai sahabatku, akan tetapi pernikahanmu besok”.

sahabat  Rasulullah tersebut tetap teguh dengan pendiriannya, beliau tetap ingin ikut berperang dengan yang lainnya, dan Rasulullah SAW pun mengizinkannya.

ketika perang berkecamuk tiba-tiba sahabat ahlu suffah tersebut terkena senjata musuh dan mengakibatkan gugur dalam peperangan tersebut. “bertahanlah wahai sahabatku, besok hari pernikahanmu”. ujar Rasulullah.

“aku sudah melihat betis-betis para bidadari wahai Raslullah”. jawabnya menghembuskan nafas terakhirnya.

sungguh sangat besar kegigihan para sahabat untuk mengorbankan dirinya bahkan nyawanya dijalan Allah dan menegakkan agama Allah, semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita semua sebab para pejuang agma Allah, Amin.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives