Website Resmi Habib Segaf Baharun

Kiat-Kiat Menguatkan Keyakinan dan Keimanan

          Nabi Muhammad diutus untuk membawa kebahagiaan, keamanan, kesejahteraan dan ketentraman. Dan Nabi Muhammad telah menjelaskan kepada kita bahwasanya yang namanya kebahagiaan, keamanan, kesejahteraan dan kesentosaan tidak akan mungkin diraih kecuali dengan keimanan dan keyakinan. Nabi telah menjelaskan kiat-kiat bagaimana kita menguatkan keimanan dan keyakinan sehingga kita menjadi seseorang yang merasa penuh dengan kebahagiaan walaupun orang melihat kita dalam keadaan sengsara dan kesedihan. Penuh dengan keamanan, kesejahteraan dan kesentosaan, walaupun mereka melihat kita tidak demikian. Adapun kiat-kiat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Membiasakan diri kita untuk mendengar dan membaca Al-Qur’an al-karim serta hadits-hadits Nabi Muhammad dengan cara memahami dan mengkaji serta meneliti makna dan hakikat daripada apa yang kita baca. Baik yang terkait dengan keagungan Allah SWT, serta kesempurnaan dan sifat-sifat mulia yang lainnya terkait dengan sifat Allah SWT didalam mengurusi semua makhluknya sendirian tanpa bantuan seorangpun. Dan juga terkait dengan sifat para Rasul dari mulai kebenarannya, kejujurannya, kesempurnaannya dan apa yang telah Allah SWT berikan dan anugerahkan dari berbagai macam mu’jizat serta pembelaan Allah SWT terhadap mereka dari tipuan-tipuan dan kejahatan-kejahatan umatnya, dan apa yang Allah SWT balaskan kepada para penentang Nabi dan Rosul yang pernah diutus oleh Allah SWT dari berbagai macam adzab dan bala’ yang terjadi kepada mereka sebagaimana hal itu diceritakan didalam Al-Qur’an maupun hadits. Yang demikian itu akan menambah keimanan dan keyakinan kita kepada Allah SWT Yang mampu dan berkuasa untuk melaksanakan semua kehendak-Nya dan semua keinginan-Nya. Serta menguatkan keyakinan kita bahwasanya ganjaran yang akan kita dapatkan dari Allah SWT dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad sebagaimana ganjaran yang didapatkan umat-umat terdahulu yang mengikuti para Nabi dan Rasulnya dari kebahagiaan, keamanan, dan kesejahteraan, yang berarti juga akan senasib dengan mereka yang menentang Nabi dan Rasulnya dengan berbagai macam adzab dan siksa. Yang demikian itu dapat kita hasilkan dengan  banyak menyimak, mengkaji, menghayati dan berusaha memahami ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang terkait dengan terjadinya hari kiamat serta seputar kejadian pada hari akhir yang menjelaskan tentang adanya hari mahsyar, hari pembalasan, mizan, sirath, dan juga keadaan-keadaan yang sangat menakutkan dan genting yang terjadi pada semua manusia di padang mahsyar. Begitu pula balasan-balasan yang akan diterima oleh hamba-hamba Allah SWT, baik dari kalangan orang-orang yang tunduk kepada agama, maupun sebaliknya, mereka-mereka yang pantas untuk mendapatkan adzab daripada Allah SWT Maka semua itu sangat berguna untuk meyakinkan diri bahwasanya apa yang kita lakukan daripada kebaikan, pasti akan dibalas dan diganjar pula dengan kebaikan dan kebahagiaan di dunia, serta ridho dan kebahagiaan di akhirat kelak. Dan ini semua berlandaskan pada firman Allah SWT  serta anjuran-Nya di dalam Al-Qur’an :

    (قال الله تعالى : أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْۚ  (العنكبوت:51

    Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? (Q.S. Al-Ankabut:51)

  2. Kita selalu berusaha untuk bertafakkur dan memandang semua ciptaan Allah SWT, baik yang ada di permukaan bumi maupun di atas langit guna mengetahui akan keagungan-Nya, dimana terdapat banyak hal yang Allah SWT ciptakan yang tidak kita mengerti. Dan setelah kita mengerti dan memahaminya, maka kita akan mengucapkan سبحان الله karena saking takjubnya kita terhadap ciptaan-Nya dan keagungan-Nya. Misalnya kita melihat bintang gemintang yang ada diatas sana yang bertaburan menghiasi langit ketika malam hari, bukankah bintang gemintang itu tidak terhitung jumlahnya? Tidak ada kaitan, tidak ada ikatan antara yang satu dengan yang lainnya, tapi kenapa tidak saling berbenturan dan semuannya berada pada porosnya? Yang demikian itu tidak akan mungkin terjadi begitu saja kecuali ada Dzat Yang Maha kuasa dan Dzat Yang Maha perkasa yang menjalankan dan mengurus itu semua. Kita melihat bumi yang sangat besar itu ternyata bumi termasuk planet yang paling kecil. Lebih kecil daripada bulan, lebih kecil daripada matahari, lebih kecil daripada bintang gemintang yang berada di atas sana. Bukankah yang semacam ini kita dapat mengambil ibroh (pelajaran) bahwasanya manusia tidak akan mungkin akan bisa berbuat semacam itu kecuali Allah SWT Yang Maha kuasa, Yang Maha bijaksana dan Yang Maha pencipta yang melakukannya?! Sehingga pantas jika Sayyidina Syaikh Abu Bakar bin Salim berkata:

    مَتَى كَانَت الأَكوَانُ حَتَّى حَجَبَتكَ عَن المُكَوِّنِ اِضمَحَلَّت الأَكوَانُ إِذَا ذُكِرَ المُكَوِّنُ

    “Kapan adanya ciptaan ini sehingga telah menghijab kamu dan menutupi serta menghalangi kamu daripada mengingat terhadap Dzat Yang telah menciptakannya? Sungguh akan luluh lantak semua alam semesta ini jika disebutkan Dzat Yang Maha pencipta.”

    Artinya kapan adanya alam semesta baik itu berupa harta, dunia, jabatan dan tahta sehingga itu semua telah melupakan dan melalaikan kita terhadap Sang Khaliq yang menciptakannya? Sungguh semuanya itu akan tiada kalau Allah SWT tidak berkehendak untuk mengadakannya! Keyakinan semacam itu tumbuh di dalam diri Syaikh Abu Bakar bin Salim, karena beliau melihat kepada semua ciptaan Allah SWT itu membutukan kepada tadbirillah (kepengurusan Allah SWT). Kalau bukan karena Allah SWT, tidak akan terlaksana semuanya. Kalau bukan karena Allah SWT, pepohonan yang ada di bumi tidak akan tumbuh. Kalau bukan karena Allah SWT, sungai dan lautan itu tidak akan mengalirkan air. Semua yang ada di dunia itu atas kehendak dan keinginan serta kekuasaan daripada Allah SWT, Sang Maha pencipta. Yang demikian itu dapat menguatkan keimanan serta keyakinan kita terhadap Allah SWT dan kepada agama ini, berlandasakan kepada firman Allah SWT yang berbunyi:

    قال الله تعالى : سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ (فصلت : 53

    Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. (Q.S. Fussilat:53)

  3. Dengan melaksanakan semua arahan dan himbauan serta perintah daripada Allah SWT yang tersebut dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi Muhammad. Dengan kata lain melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, ditambah menerapkan kiat pertama dan kiat kedua yang disebutkan sebelumnya sehingga kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan semua yang diperintah-Nya dan menjauhi segala larangannya serta meyakini bahwa semua yang dijanjikan oleh Allah dan Rosul-Nya itu benar. Yang demikian itu tidak mungkin akan terlaksana kecuali dengan cara mujahadah melawan hawa nafsu kita, membiasakan diri kita memaksakan diri untuk percaya dengan apa yang disampaikan oleh Allah SWT dan Rosul-Nya didalam syariat Islam ini sehingga lambat laun akan menjadi sebuah kebiasaan dan akan menjadi sebuah tabiat serta akan menjadi sebuah keyakinan yang kuat dalam diri kita sehingga tidak akan meninggalkan perintah Allah tersebut apapun yang terjadi pada dirinya. Yang demikian itu berlandaskan kepada firman Allah SWT:

(قال الله تعالى : وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا (العنكبوت: 69

              Dan mereka-mereka yang berusaha melawan hawa nafsunya dan memaksakan               dirinya untuk melaksanakan semua perintah Allah SWT, maka pasti akan kami                  buka pintu-pintu kebaikan untuknya. (Q.S. Al-Ankabut:69)

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives