Website Resmi Habib Segaf Baharun

Berfikirlah terhadap Makhluk Allah dan Janganlah berfikir pada Zatnya Allah

           Jika terlintas difikiran kita bahwasnya Allah Ta’ala itu seperti itu, seperti itu, adanya seperti ini, seperti ini, seperti ini, ketahuilah bahwasanya Allah Ta’ala itu tidak seperti demikian. Karena apa?. Karena Allah itu tidak bisa dijangkau, sesuatu yang bisa dihayalkan itu sesuatu yang bisa dilihat, yang pernah digambarkan, yang pernah diceritakan, Allah ta’ala tidak pernah diceritakan tentang sifatnya, karena adanya Allah tidak ada yang bisa melihatnya, Nbi kita Muhammad SAW itu tidak bisa melihat wujud Allah SWT, kalaupun jika Rasulullah SAW menjelaskan tentang yang dipandang atas wujudnya Allah Ta’ala maka kita tidak bisa menerimanya, karena bahasnya itu tidak ada, bahasa yang diketahui oleh Nabi yang dapat dicerna oleh akal kita itu tidak ada, sehingga Rasulullah SAW tidak menceritakannya kepada kita maka kalu Nabi mengatakan:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

                Termasuk dari keindahan Islam iman seseorang itu adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada artinya, termasuk yang tidak ada artinya jika diceritakan kepada kita dan kita tidak faham dan hanya Nabi Muhammad SAW yang dapat mencernanya, jibril, Rasul-rasul yang lainnya, makhluk-makhluk yang lainnya juga tidak mampu untuk mencernanya,sehingga kalau disampaikan maka Nabi termasuk yang kurang faham, kurang pintar dan kurang jenius,  misalnya “jika angin itu suatu saat berhenti berhembus itu maka ada rizki Allah sekian puluh ribu hamba yang tercegah tapi behentinya itu hanya satu detik setengah”, apakah kita bisa menjangkaunya?. Tidak mampu, karena kita tidak pernah belajar masalah angin, mendeteksi angin setengah detik. Terkadang syetan itu masuk didalam sholat kita sehingga kita pernah berfikir bahwasanya Allah itu seperti apa sih, biar ketika sujud bisa tambah mantap khusyu’nya, dan ketahuilah bahwasanya itu semua berasal dari syetan. san yang harus kita lintaskan didalam sholat kita adlah kebesaran-Nya, keagungan-Nya, sifat-sifat-Nya tapi jangan sifat kholqiahnya, karena belum ada yang menceritakan sifat kholqiah Allah. Misalnya Allah yang menciptakan sekian banyak manusia akan tetapi berbeda-beda tak ada satupun yang sama, begitu juga Allah menciptakan matahari yang sangat besar tapi jika kita lihat masih banyak planet-planet yang lebih besar daripada matahari karena kita melihat matahari tersebut dengan kasat matam dari sinilah kita dapat mengetahui sifat agungnya Allah.

              Kita bayangkan sifatnya saja yang merahmati, orang tua jika melihat anaknya yang sakit sampai tidak bisa tidur, jika anak tersebut membutuhkan makan dan sebagainya jika tidak ada maka dia akan berjuang untuk mendapatkannya, ternyata rahmatnya Allah itu ada 99 kalinya, artinya dari sekian milyar rahmat yang ada dimuka bumi ini hanya satu rahmat Allah yang Allah turunkan, masih ada 99 rahmat lagi, rahmat Allah begitu besar, itu yang kita fikirkan.

Itu semua maksud Allah dalam irman-Nya:

تفكرو في خلق الله و لا تفكرو في ذات الله

        Jadi rahmat itu banya bentuknya, syukur iru banyak bentuknya, bagaimana syukurnya seorang hamba itu memerlukan kepada syukur yang lainnya, bagaimana istighfar seorang hamba itu memerlukan kepada istighfar yang lainnya, banyak seorang ulama’, da’i dan sebagainya itu diberi ilmu yang bernacam-macam oleh Allah Ta’ala sebagai bentuk kasih sayangnya Allah sehingga mereka itu menjadi sebab taubatnya banyak orang, sebab hidayah banyak orang. Bagaimana Allah memberikan ilmu kepada mereka, antara satu orang alim dan yang lainnya beda keilmuannya.

                Itu yang seharunya selalu si hayalkan, misalnya seseorang merasakan sangat haus mencari air kemana-mana sampai ia ketiduran sehingga dia bermimpi meminum airm itulah yang dimaksud dengan bunga tidur, begitu juga jika kita ingin bermimpi Rasulullah SAW maka kita hendaknya memikirkan, membayangkan dan menhadirkan Rasulullah SAW sehingga akan mempermudah dia untuk bermimpi Rasulullah SAW.

               Semua yang ada difikiran kita tentang Allah Ta’ala itu ada sifat-Nya, maka jangan kita kaitkan sifat-sifat-Nya itu dengan bentuknya Allah. Berarti akal yang Allah berikan kepada kita itu ada batasnya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives