Website Resmi Habib Segaf Baharun

Bahaya Lisan: Bernyanyi dan Melantunkan Syi’ir

           Yang dimaksud bernyanyi disini adalah menyanyikan lagu-lagu yang haram untuk dilantunkan semisal lagu-lagu yang tidak pantas untuk dinyanyikan atau dilagukan, baik yang terkait dengan cinta ataupun maksiat. Sedangkan yang dimaksud melantunkan syi’ir disini adalah semacam syi’ir- syi’ir jahiliah, semisal  syi’ir yang diperuntukan untuk wanita untuk memuji kecantikannya serta mengungkapkan sifat-sifatnya. Begitupula jika didalamnya mengandung penghinaan, ejekan dan lain-lain. Akan tetapi jika syi’ir itu digunakan untuk suatu kebaikan untuk memuji seseorang yang pantas mendapatkannya untuk memotivasi orang lain untuk melakukan suatu kebaikan, maka hal itu tidak dilarang. Bahkan Nabi SAW memerintahkan sahabat Hasan bin Tsabit Al-Anshori untuk mengejek orang kafir dengan syi’irnya dalam suatu peperangan dan memuji kaum muslimin dan memotivasi kaum muslimin dalam memerangi mereka dengan lantunan syi’ir. Dan dalam beberapa kesempatan kerap kali sahabat Nabi memuji Nabi  dengan syi’irnya. Baik syi’ir itu berasal dari sahabat Hasan bin Tsabit atau dari pamannya, Abbasa bin Abdul Mutholib. Bahkan Sayyidah Aisyah pun pernah menyebutkan suatu syi’ir didepan Nabi dan justru Nabi merasa senang dengannya. Sebagaimana diceritakan oleh beliau: “suatu waktu Nabi SAW sedsng menjahit sandalnya sedangkan aku sedang menenun kainku. Kemudian aku melihat dari dahi Rasulullah SAW keluar keringat bagaikan butiran-butiran mutiara yang membiaskan cahaya yang sangat luarbiasa cemerlangnya. Maka aku sangat terpaku melihatnya. Dan tatkala Nabi SAW melihatku terpaku, maka nabi berkata kepadaku “ kenapa engkau terpaku wahai Aisyah?”. Maka aku menjawab, “aku melihat kepadamu ketika dahimu telah meneteskan keringat bagaikan mutiara yang membiaskan sebuah cahaya. Demi Allah jika Abu Kabir Al Hudzali melihatmu, pasti dia akan mengatakan bahwa syi’ir yang diucapkannya dulu adalah syi’ir yang panta diucapkan kepadamu”. Maka Nabi berkata kepadaku “apa syi’ir yang diakatakan oleh Abu Kabir Al Hudzali wahai Aisyah?”. Maka aku melantunkan syi’ir ini:

   وَ مُبَرَّأٌ مِنْ غَبرِحَيْضَةٍ                      وَفَسَادِ مُرْضِعَةٍ وَدَاءِ مُغِيْلٍ

وَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَى أُسْرَةِ وَجْهِهِ              بَرَقَتْ كَبَرْقِ الْعَارِضِ الْمُتَهَلِّلِ

             Terlepas dari sisa darah haid wanita dan kerusakan wanita yang menyusui anaknya serta dari penyakit wanita yang sedang hamil, apabila kamu melihat kepada garis-garis wajahnya niscaya akan terlihat berkilauan seperti kilaunya awan ketika berkilaunya dengan petir.

       Maka tatkala Nabi mendengarnya, beliau meletakkan sandal dan jarum jahitnya kemudian mencium keningku seraya berkata, “terimakasih…semoga Allah membalas kebaikanmu wahai Aisyah. Aku tidak pernah merasa senang seperti senangnya aku darimu saat ini”.

        Dan syi’ir- syi’ir yang dilantunkan oleh para munsyid yang memuji Nabi SAW ataupun orang-orang sholeh begitupula qasidah-qasidah yang mengandung nasehat-nasehat agama, maka syi’ir- syi’ir seperti itu tidak diharomkan, akan tetapi yang dimaksudkan disini adalah syi’ir- syi’ir jahiliyah, atau yang dimaksudkan di Indonesia adalah nyanyian-nyanyian lagu yang biasa dikumandangkan oleh para artis dan penyanyi yang sangat tidak pantas untuk diucapkannya. Tidak sesuai dengan keimanan dan ketaqwaannya  sebagai seorang mukmin yang sejati.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives