Konsultasi Tanya Jawab

Assalamualaikum,

Bagi yang ingin berkonsultasi, dapat menggunakan fasilitas ini, dengan memasukkan data yang lengkap dikolom serta menuliskan pertanyaan di tempat yang telah disediakan, untuk pertanyaan akan di moderasi terlebih dahulu untuk kemudian di jawab.

* indicates required field

 

24 Comments on Konsultasi Tanya Jawab

  1. Assalamualaikum
    Habib saya sedang ada masalah dengan keluarga yang insya Allah menjadi istri saya
    Wanita yang saya ingin nikahi adalah cucu Nabi Muhammad, berapa hr yang lalu dia lari dr rumah karena tidak mau dinikahkan, dan dia hanya mau menikah dengan saya
    Apakah saya tidak berhak atau tidak boleh menikah dengan dia ..?
    Terima kasih

    • Assalamualaikum
      Habib saya sedang ada masalah dengan keluarga yang insya Allah menjadi istri saya
      Wanita yang saya ingin nikahi adalah cucu Nabi Muhammad, berapa hr yang lalu dia lari dr rumah karena tidak mau dinikahkan, dan dia hanya mau menikah dengan saya
      Apakah saya tidak berhak atau tidak boleh menikah dengan dia ..?
      Terima kasih

      Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wa Barokatuh
      Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat-Nya dan memudahkan segala urusan anda.
      Sebagai agama yang rohmatan lil alamin, islam memperhatikan segala urusan umatnya dengan cara mengatur segala sesuatu terutama dalam masalah perkawinan yang sakral. Dalam perkawinan, islam mempunyai banyak aturan diantaranya adalah “kafaah”.
      Yang dimaksud dengan kafaah adalah kasta derajat seseorang. Yaitu sesuatu derajat kemuliaan yang jika tidak ada pada calon pria kemuliaan tersebut ma¬ka akan menyebabkan jatuh derajatnya si istri atau merupakan aib bagi keluarganya.
      Dan hal itu disaratkan umumnya bukan untuk keabsahan suatu pernikahan akan tetapi untuk men¬jaga derajat atau kasta seseorang dan hal itu menjadi hak calon istri dan wali nikahnya sehingga jika keduanya menyetujui kawin dengan calon suami yang tidak sederajat, maka sah nikahnya.
      Macam kafaah ada enam perkara dan hal itu disyaratkan ketika terjadi proses aqad. Adapun enam perkara kafaah tersebut adalah sebagai berikut:
      1. Agama
      2. Nasab
      3. Iffah
      4. Pekerjaan
      5. Kemerdekaan
      6. Tidak Ada Aib
      Sehubungan dengan macam kafaah yang ketiga, maka seorang wanita Arab tidak sederajat dengan laki-laki bukan bangsa Arab. Bahkan laki-laki bangsa Arab selain Quraisy tidak sederajat dengan wani¬ta dari bani Quraisy dan bangsa Arab selain keturunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. tidak sederajat dengan wanita keturunan Rasulul¬lah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Adapun yang ter¬jadi bahwa putri putri Rasul dikawinkan dengan suami-suami mereka, seperti Sayyidina Usman bin Affan suami dari sayyidatina Ruqoyyah dan ummi Kulsum atau Ash bin Robi1 suami dari sayidatina Zainab radliallahu ‘anha maka para ulama’ berkata (di antara mereka imam Khotib Assyarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj sarah Minhaj) bahwa hal itu di karenakan darurat untuk menjaga keutuhan keturunan mereka, sebagaimana diperbolehkan bagi Adam Alaihis Salam menikahkan putrinya dengan putranya, dan juga karena kafaah itu milik calon istri dan walinya dan Rasulullah setuju, begitu pula putri-putri beliau radliallahu ‘annum. Kesimpulannya bahwa nasab seseorang merupakan ukuran kasta dan derajat seseorang dalam menikah dalam madzhab imam Syafi’i sebagaimana tertera dalam kitab-kitab fiqih imam Syafi’i walau-pun tidak disyaratkan sebagian madzhab seperti madzhab imam Malik radliallahu ‘anhu. Sehingga tidak boleh bagi seorang yang bermadzhab Syafi’i mengingkari apa yang telah ditetapkan oleh imam mereka dengan ijtihad beliau. Dan bagi yang bukan bermadzhab Syafi’i juga tidak boleh mengingkari sesuatu yang telah di tetapkan oleb seorang mujtahid, apalagi jika dia muqollid karena siapa dia dan siapa Imam Syafi’i radliallahu ‘anhu, akan tetapi jika si wanita dari bangsa Arab atau dari keturunan Rasul tersebut menggugurkan kafaahnya begitu pula walinya maka sah pernikahan tersebut dan tidak boleh bagi siapapun untuk menentangnya. Sedangkan dasar Imam Syafi’i dalam kafaah nasab adalah sabda baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alai¬hi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Mus¬lim:
      إِنَّ الله اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى بَنِيْ هَاشِمْ مِنْ قُرَيْشٍ وَاصْطَفَانِيْ مِنْ بَنِيْ هَاشِمْ (رواه مسلم)
      Seseungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan sayidina Ismail dan memilih Qurays dari keturunan Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari keturunan Kinanah dan Allah memilihku dari Bani Hasyim.(H.R. Muslim)

      Dan juga hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan imam Syafi’i radliallahu ‘anhu yang berbunyi:
      قَدِّمُوْا قُرَيْشًا وَلاَ تُقَدِّمُوْهَا (رواه طبراني والسيوطي)
      Dahulukan oleh kalian orang Quraisy dan janganlah kalian melampauinya.(H.R. Thobroni-Suyuthi)

      Hadits itulah yang dijadikan dasar adanya kafaah nasab oleh imam Syafi’i radliallahu ‘anhu.
      Demikianlah penjelasan dari kami, semoga hal ini dapat menjadi titik terang atas permasalahan yang anda hadapi dan harapan kami semoga anda dapat menjalani kehidupan ini sesuai dengan aturan yang telah digariskan oleh Rosulullah SAW. Aamiiin…

  2. Terima kasih habib atas penjelaaannya
    Semoga kita dirahmati oleh Allah S.W.T
    Amiin

  3. Sblmnya saya sangat minta maaf
    Apakah hal membedakan kasta itu boleh., bukankah dalam islam Allah tidak pernah membedakan kasta melainkan amal dan ibadahnya habib, terima kasih

    • seluruh manusia dihadapan tuhannya yaitu Allah SWT sama, tidak ada yang membedakan mereka kecuali amal ibadahnya

  4. kalau di rumah ada kotoran cicak yg awalnya kering, tp krn sblm dipel tdk dibuang dulu tp lgsg main pel saja, bagaimana status kesucian lantai yg dipel pd kain basah yg tercampur dg kotoran cicak tsb?

    • Ketika kotoran cicak sudah mengering seharusnya cukup dibuang saja, akan tetapi ketika dia terkena air maka dia menjadi najis.
      jika kotorannya menempel di lantai, maka hendaknya dibersihkan dengan sedikit air dan dikeringkan kemudian baru dipel.

  5. ASSALAMUALAIKUM..SAYA MAU TANYA BAGAIMANA JIKA SEORANG SUAMI YANG SEDANG MARAH BERKATA PULANG LAH K RUMAH ORANG TUA MU KARENA DIA INGIN MENYENDIRI DULU ATAU INGIN ISTIRAHAT SECARA TENANG APAKAH ITU SUDAH TERMASUK JATUH TALAK NYA…???

    • Wa’alaikumussalam…
      Saudari April… kata talak dalam agama Islam ada 2 macam:
      1. talak shorih : talak yang diucapkan secara terang-terangan, seperti “aku menceraikanmu, dll”.
      2. talak ta’ridh : talak yang diucapkan dengan menggunakan kalimat sindiran, seperti “pulanglah ke rumah orangtuamu, dll”.
      Hukum dari talak shorih tentu jatuh talak pada waktu itu juga. Sedangkan hukum daripada talak ta’ridh adalah tergantung kepada niat suami. jika ia mengatakannya dengan niat mentalak, maka jatuh talaknya. akan tetapi jika mengucapkannya bukan dengan niat mentalak, maka tidak jatuh talak.
      Semoga Allah memudahkan semua urusan anda.
      admin

  6. Assalamu’alaikum.
    Habib saya mau bertanya bolehkah orang NU shalat di masjid yang imamnya dan makmumnya Muhammadiyah ?.
    Terima kasih.

    • Wa’alaikumussalam…
      Orang NU sah berjamaah dengan orang Muhammadiyah asalkan sholatnya tidak keluar dari aturan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

  7. Assalamu’alaikum.
    Habib, sebelumnya saya minta maaf, saya mau bertanya apakah bisa mengirim pahala shalawat kepada orang yang masih hidup?.
    Terima kasih atas jawabannya.
    Wassalamu’alaikum.

  8. Assalammualaikum wr.wb. pak ustad saya ingin bertanya. saya sudah menikah 1 tahun lebih saya baru melahirkan anak perempuan yang baru 2 bulan. pak ustad saya mempunyai konflik antara Suami saya dengan orang tua sayang. apakah saya berdosa tidak mengikuti keinginan suami yang ingin hidup mandiri bersama saya dan anak saya tetapi orang tua saya tidak mengijinkan saya mengikuti suami saya karena takut dengan sikap suami saya yang suka mengikuti omongan orang tua suami saya, sedangkan omongan saya yang sebagai istrinya selalu diabaikan. dan orang tua saya ingin memutuskan pernikahan saya dengan suami saya, karena sikap egois suami saya jadi orang tua saya tidak mengijinkan saya untuk ikut dengan suami saya . saya sudah hampir 3 minggu tidak tinggal dengan suami saya . menurut pa ustad saya harus bagaimana mengikuti perintah Suami atau perintah orang tua saya. dan apakah saya berdosa jika saya tidak mengikuti keinginan orang tua saya.
    terima kasih pak ustad
    Wassalammualaikum wr.wb

    • Waalaikumsalam ibu Sandi, kita dituntut untuk menghormati dan patuh kepada kedua orang tua kita jika sebaliknya kita akan mendapatkan dosa dan Allah tidak akan redha dengan kita, akan tetapi jika kita sudah bergelar isteri semua tuntutan itu gugur karena kita wajib patuh dan menghormati suami karena syurga, pahala, dan dosa kita tergantung redhanya suami, dan redha keluarga si suami bukan lagi tergantung orang tua si isteri, makanya kita harus lebih berhati2. walaupun keputusan si suami yg tidak kita senangi haruslah dituruti selagi tidak melanggar syariat karena dgn taat pada suami akan mendapatkan pahala yang besar dan isyaAllah mendapatkan keberkahan rumah tangga

  9. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Habib yang dimuliakan Allah SWT, saya mau bertanya ada shalawat yang menghapuskan 100.000 dosa besar. Jika kita membaca sekali Allah SWT akan mengampuni 100.000 dosa besar, min al-kabaair. Apakah termasuk dosa syirik ya Habib?. Terima kasih jawabannya.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

  10. habibsegaf // July 29, 2017 at 1:59 pm // Reply

    wa’alaikumussalam,
    apa yang yang Anda katakan kepada Istri Anda merupakan talak ta’liq/menggantung dengan sesuatu. maka jika ternyata istri Anda berada di luar kota, maka jatuhlah talaq, tapi jika tidak, maka tidak jatuh talaq. demikian semoga dapat dimengerti.
    dan semoga Anda dan keluarga diberi ketabahan dan kekuatan iman dalam mengahadapi segala ujian dariNya.

  11. Assalamualaikum wr.wb.
    afwan bib..ana sdh menikah 8th dan brasan ana mentalak 1,2 dan yg 3 kpd istri ana dalam waktu -+ 2 minggu dan yg talak ke 3 setelah ana ngucap baru ana ketahui kalo harim ana br aja dapat haid krn pd waktu beberapa jam sebelumnya sempat sholat berjamaah (yg artinya belum datang haid)..
    yg mau ana tanyakan :
    1. berdosakah ana atau bisa dibilang haram dalam kondisi ana tidak tau waktu datangnya haid itu?
    2. sah kah talak 3 ana ?
    3. lalu sikap ortu trutama umi ana yg sdh tau hal tsb menuntut ana utk gmn caranya supaya kembali bersama krn alasan anak2 ana yg masih kecil dan juga kebetulan harim masih misanan / sepupu sendiri tapi disini ana sudah tidak bisa krn ana trs terang sudah tidak yakin dan kadung jengkel dgn sikapnya yg keras kepala dan hal lainnya..mohon penjelasan dan nasehatnya bib.. afwan sebelumnya..

    • Waalaikumsalam
      Saudara Haykal yang dirahmati Allah Haram mentalaq istri dalam keadaan haid atau suci setelah disetubuhi,dan talaq anda tetap sah hukumnya,dan jika anda ingin rujuk kembali dengan isteri anda maka ada syarat-syarat berikut ini:
      1. Menunggu sampai selesai iddahnya.
      2. Adanya muhallil, yaitu harus kawin dengan laki-laki lainnya.
      3. Muhalil itu harus menyetubuhinya walaupun sekali, bukan hanya aqad nikah saja.
      4. Dia telah ditalaq oleh muhallil (suaminya yang kedua).
      5. Selesai iddahnya dari suami yang kedua. Jika memenuhi syarat di atas boleh bagi suami pertama kembali kepadanya dengan aqad nikah baru dan kembali dia mempunyai hak talaq penuh ter¬hadap istrinya yaitu tiga kali talaq.
      Dan jika anda tidak bisa kembali lagi dan memenuhi kemauan ibu anda bicarakanlah baik-baik,akan tetapi sebaiknya anda mengikuti apa kata orang tua anda,apalagi ibu anda selagi itu yang terbaik.Wallahua’lam
      Semoga dapat dipahami.

  12. Assalamualaykum

    Habib, apakah boleh seorang istri memilih tidur terpisah dengan suami? Karena istrinya itu memilih tidur dengan anaknya yg masih gadis.. menemaninya gitu bib,

    Bagaimana hukumnya?

    • Waalaikumsalam ww.wb.
      Saudaraku yang dirahmti Allah, boleh saja bagi istri anda untuk menemani anak tidur anak gadisnya asalkan dengan izin suaminya,barang kali si suami butuh kepadanya.
      Seperti dikisahkan bahwasanya sayidah Rabi’atul Adawiyah Radiallahuanha ketika malam tiba ia selalu memakai pakaian yang bagus dan berdandan yang cantik untuk suaminya dan ia datangi suaminya lalu ia bertanya “Wahai suamiku,apakah engkau membutuhkanku malam ini ?” Jika suaminya memnawab “Iya” maka ia layani suaminya itu, tapi jika suaminya menjawab “Tidak” Maka ia ganti pakaiannya yang bagus itu dengan pakaian sholatnya dan ia beribadah kepada Allah hingga subuh tyiba.
      Demikian penjelasannya semoga bisa dipahami.dan semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga sakinah mawaddah warahmah.

  13. Assalamu’alaikum
    Yang termulia Habib, saya mau bertanya lebih besar mana manfaat shalawat Allahumma shalli ‘ala sayyidinaa Muhammad wa ‘ala Ali sayyidina Muhammad dengan shalawat Al Fatih ?.
    Terima kasih.

    • Wa’alaikumsalam..
      Shalawat dalam islam bagaikan obat bagi yang membacanya. Di setiap shalawat pun ada manfaat sendiri-sendiri. Jika ditanyakan manfaat mana yang lebih besar antara shalawat satu dengan yang lainnya maka hanya Allah lah yang mengetahuinya.
      Seperti yang Saudara tanyakan, shalawat Al Fatih cocok dibaca bagi orang yang ingin mendapatkan futuh dalam ilmunya. Ada juga shalawat yang berfaedah untuk tolak balak. Jadi kesimpulannya kita sebagai manusia biasa tidak bisa mengukur shalawat mana yang lebih besar manfaatnya karena masing-masing shalawat mempunyai faedah-faedah utama yang berbeda-beda.
      Semoga kita dijadikan sebagai orang-orang yang selalu bershalawat kepada Baginda Rasulullah SAW. Amin..

  14. assalamualaikum habib,saya sda di talak 1 kali dan terus saya dan suami menikah ulang walaupun hanya terjadi 1 talak,terus beberapa hari kemudian kami betengkar dan suami berkata “diam lah nanti ku ceraikan kamu”.dan saya pun diam.yg jadi pertanyaan saya sda terhitung berapa kali kah saya di talak oleh suami saya habib,dan apakah perlu menikah lg tolong jawaban nya terima kasih

Leave a comment

Your email address will not be published.

*